|
Akses ke toilet sulit di Asia | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Para menteri dan pejabat senior dari 14 negara Asia Timur hari ini memulai pertemuan di Jepang untuk membahas masalah yang ditimbulkan oleh sanitasi yang buruk di kawasan. Meski pertumbuhan ekonomi di sebagian besar Asia Timur, panitia konferensi mengatakan, hampir setengah penduduk di kawasan tersebut tidak memiliki sanitasi yang memadai Kebanyakan negara-negara di Asia Timur menikmati pertumbuhan ekonomi yang stabil. Beberapa dari negara termiskin bahkan mencatat pertumbuhan yang paling mengesankan. Namun begitu, ratusan juta orang yang tinggal di wilayah ini tidak punya akses ke toilet. Buruknya sanitasi membantu penyebaran penyakit yang menewaskan orang. Meninggal Organisasi Kesehatan Dunia mengatakan hampir 200 ribu orang meninggal setiap tahun dari penyakit yang berkaitan dengan diare. Pertemuan para menteri dan pejabat dari seluruh Asia Timur ini adalah pertemuan yang tertinggi sejenis yang diadakan disini. Barbara Evans, seorang teknisi sipil yang mengkhusus diri pada masalah-masalah pembangunan mengatakan, panitia ingin menegaskan bahwa yang diperlukan bukan hanya beberapa fasilitas baru. Pemerintah-pemerintah juga perlu mengeluarkan biaya bagi satu kampanye untuk mengubah perilaku orang. "Kami punya banyak bukti yang memperlihatkan berbagai pemerintah sangat baik dalam membangun toilet-toilet dan jika anda kembali 10 tahun kemudian, toilet-toilet itu dipenuhi ayam, barang-barang dan apa saja," kata Barbara Evans. Dia menambahkan, "Memang tidak bisa langsung memuaskan, yang bisa anda lihat adalah secara statistik perbaikan dalam bidang kesehatan dasar meningkat setiap tahun, karena itulah mengubah perilaku ini sangat sulit." Satu studi yang baru-baru ini dilakukan oleh Bank Dunia menemukan bahwa sanitasi yang buruk berperan sebagai penahan lajunya perekonomian. Laporan itu mengatakan, masalah-masalah sanitasi dan kebersihan di Kamboja, Indonesia, Filipina dan Vietnam jika digabungkan menyebabkan kerugian sebesar US $ 9 milyar per tahun. | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||