31 Oktober, 2007 - Published 09:38 GMT
Lebih dari seratus bhiku berarak di Birma untuk kali pertama sejak aparat pemerintah membubarkan aksi unjukrasa secara brutal.
Barisan bhiku itu berpekik dan berdoa sambil berarak melalui Pakokku, situs peristiwa bulan lalu yang memicu unjukrasa pro-demokrasi nasional.
Pemerintah mengatakan, 10 orang meninggal dalam pembubaran paksa itu, namun para diplomat yakin, jumlah korban jauh lebih tinggi.
Ribuan lagi, yang banyak di antara bhiku diduga ditahan.
Dalam perkembangan terpisah, organisasi HAM Human Rights Watch menuduh militer Birma merekrut paksa anak-anak untuk mengisi kekurangan calon tentara dewasa.
Menganggap sepi
Pakokku adalah pusat pembelajaran Buddha yang berada sekitar 630km barat laut Rangoon.
Laporan-laporan bahwa serdadu memukuli bhiku di tempat itu pada 6 September mendatangkan momentum nasional bagi unjukrasa yang mulai bergulir 19 Agustus di tengah aksi penentangan terhadap kenaikan harga BBM.
Para saksi mata pawai hari Selasa mengatakan, para bhiku tidak mengeluarkan pernyataan politik terbuka, namun rapat umum itu jelas menganggap sepi junta militer.
Semua bentuk pertemuan bhiku dilarang di Birma dan banyak vihara masih kosong.
Wartawan BBC Andrew Harding dari Bangkok mengatakan, tidak bisa diperkirakan apakah unjuk rasa baru ini akan menjadi awal dari gelombang protes lebih lanjut.
Namun seorang biku dikutip mengatakan bahwa protes lanjutan yang lebih besar sedang direncanakan.
Menurut wartawan kami, pemilihan waktu protes ini menjadi penting. Pemerintah Birma sedang mempersiapkan kedatangan kembali utusan khusus PBB akhir pekan ini. Ibrahim Gambari akan mencari tanda-tanda bahwa para jenderal mulai mendengarkan tekanan internasional.