28 September, 2007 - Published 09:37 GMT
Perdana Menteri Inggris Gordon Brown mengatakan, dia yakin jumlah korban meninggal di Birma "jauh lebih banyak" daripada yang dilaporkan pihak berwenang.
Dia menyatakan hal itu setelah mengadakan pembicaraan melalui telepon dengan Presiden Amerika Serikat George W Bush dan Perdana Menteri Cina Wen Jiabao.
Para pejabat Birma mengatakan sembilan orang tewas hari Kamis saat tentara menembakan gas air mata dan peluru ke arah massa pengunjuk rasa anti pemerintah di Rangoon.
''Saya ingin mengecam tingkat kekerasan yang benar-benar memprihatinkan terhadap rakyat Birma," katanya.
"Saya khawatir bahwa kami yakin jatuhnya korban meninggal di Birma jauh lebih banyak daripada dilaporkan sejauh ini," kata Brown.
Dia berharap, tekanan internasional dari Amerika, Cina, Uni Eropa dan PBB akan "mulai membuat rejim ini melihat bahwa tindakan ini tidak dapat dilanjutkan."
Duta besar Inggris dan Australia di Birma mengatakan jumlah korban yang tewas kemungkinan lebih tinggi dari angka resmi pemerintah Birma.
"Para pengamat mengatakan jumlah korban yang tewas kemungkinan lebih besar dari jumlah yang disebutkan," kata dutabesar Inggris, Mark Canning kepada BBC.
Tutup vihara
Tentara dan polisi Birma dengan menggunakan pentungan menerjang sekelompok kecil pengunjuk rasa yang berusaha berkumpul di Rangoon.
Pasukan keamanan menutup lima vihara utama di Rangoon dan menetapkan kelima vihara itu tidak boleh dikunjungi untuk mencegah protes anti pemerintah terjadi kembali.
Media pemerintah mengatakan sembilan orang tewas pada hari Kamis ketika tentara pemerintah melepaskan gas air mata dan menembakkan peluru karet ke para pengunjukrasa di jalan-jalan Rangoon, kota utama di negara itu.
Kota Rangoon kembali dijaga dengan sangat ketat hari Jumat, kata wartawan BBC Jonathan Head di negara tetangga Birma, Thailand.
Tentara menutup sejumlah vihara dan pagoda utama di Rangoon, termasuk pagoda Shwedagon dan Sule - yang menjadi tempat aksi protes besar sepanjang pekan ini.
Semua jalan utama ke pusat Rangoon ditutup dan aparat keamanan memindahkan barikade untuk menutup daerah-daerah pemukiman di tengah kota.
Internet diputus
Informasi dari Birma semakin sulit didapat. Akses internet di Rangoon diputus dan hanya beroperasi sebagian di daerah lainnya.
Sumber-sumber BBC di Birma mengatakan sinyal telepon selular internasional terganggung dan tentara memeriksa semua orang untuk mencari kamera dan telepon genggam.
Para pembangkang selama ini menggunakan internet untuk memasang gambar dan video unjuk rasa serta tindak kekerasan aparat ke media internasional - yang kemudian menayangkannya kembali ke Birma melalui internet dan televisi satelit.
Namun beberapa saksi mata berhasil menghubungi BBC pada hari Jumat untuk mengatakan pemerintah mengirim para pendukung junta militer ke Rangoon untuk menyerang para demonstran.
Mereka mengatakan tempat penahanan sementara didirikan di bekas stadiun balap kuda, tempat sejumlah besar pengunjuk rasa ditahan dalam beberapa hari ini.
Suasan di sana dikatakan sangat tegang dan warga merasa ketakutan.
Truk-truk yang membawa pengeras suara berkeliaran di Rangoon, untuk memperingatkan warga agar tidak melindungi pengunjuk rasa yang lari dari kejaran aparat.
Tekanan internasional
Salah satu korban yang tewas pada hari Kamis adalah seorang wartawan video asal Jepang. Menurut keterangan resmi pemerintah Birma, delapan pengunjuk rasa juga terbunuh. Satu pria dilaporkan tewas pada hari Rabu.
Jepang mengatakan pihaknya akan mengajukan protes resmi atas kematian Kenji Nagai, wartawan video yang bekerja di kantor berita APF News yang berkantor pusat di Tokyo.
Duta besar Australia untuk Birma, Bob Davis mengatakan kepada radio Australia, ABC, bahwa jumlah korban yang tewas kemungkinan "beberapa kali lipat dari 10 tewas yang diakui pemerintah Birma".
Dia mengatakan para saksi mengatakan kepada para pejabat kedutaan bahwa mereka melihat "jumlah mayat yang dibawa pergi dari tempat-tempat demonstrasi di Rangoon pada hari Kamis jauh lebih banyak dari jumlah itu".
Presiden Amerika Serikat George W Bush mengecam tindakan aparat militer Birma dalam menekan aksi protes massa dan memperketat sanksi terhadap para pemimpin militer negara itu.
Ketika berbicara dengan Menteri Luar Negeri Cina Yang Jiechi di Gedung Putih, Bush mendesak Cina, yang merupakan salah satu tetangga dan mitra dagang terdekat Birma, untuk memberi tekanan lebih kuat terhadap negara itu.
Bush mengatakan: "Setiap negara beradab memiliki tanggung jawab untuk membela rakyat yang menderita di bawah rezim militer yang brutal seperti yang telah terlalu lama memerintah Birma."
Beijing mendesak semua pihak untuk "tetap menahan diri", namun menolak untuk mengutuk junta militer.
Negara-negara tetangga Birma lainnya, yang tergabung dalam ASEAN (Asosiasi Negara Negara Asia Tenggara) pada pertemuan para menteri luar negeri di New York menyatakan "rasa muak" mereka atas kekerasan di Birma.