|
Unjuk rasa Birma berlanjut | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Ratusan orang berkumpul di kota utama Birma, Rangoon, meski selama tiga hari ini aparat keamanan menindas aksi protes pro demokrasi di negara itu. Para pengunjuk rasa dikepung oleh aparat keamanan dan kelompok-kelompok pendukung militer, kata sejumlah saksi mata. Demonstran meneriakkan berbagai slogan dan mengejek polisi, namun sampai sejauh ini belum terdengar suara tembakan. Unjuk rasa itu digelar di saat utusan khusus PBB, Ibrahim Gambari, tiba di Rangoon. Gambari dijadwalkan untuk langsung terbang ke ibukota baru Birma, Naypyidaw, untuk melakukan pembicaraan penting dengan para jenderal penguasa negara itu.
Beberapa saksi mata mengatakan setelah suasana sepi pada pagi hari di Rangoon, pada pengunjuk rasa kembali berkumpul di pusat kota. Sejumlah saksi mengatakan kepada BBC bahwa lebih dari 1.000 orang melakukan protes terhadap pemerintah. Insiden kekerasan baru dilaporkan pecah lagi. Menurut kantor berita Perancis, AFP, pasukan keamanan menyerbu sekitar 100 demonstran di jembatan Pansoedan di Rangoon tengah. "Mereka dengan keras memukuli beberapa orang," kata seorang saksi mata kepada kantor berita AFP. "Saya melihat pasukan keamanan menangkap sekitar lima orang di jalan." Para wartawan mengatakan aksi protes yang baru ini akan menjadi pukulan bagi pemerintah militer, yang sebelumnya menyatakan lewat media pemerintah bahwa perdamaian dan stabilitas sudah dipulihkan. Pembicaraan Unjuk rasa anti pemerintah kini sudah berlangsung di Birma selama hampir dua minggu, dan selama tiga hari kemarin aparat militer melakukan tindakan represif terhadap para demonstran. Jaringan internet, yang oleh pemerintah dihentikan untuk mengendalikan arus informasi tentang demonstrasi yang terjadi, dilaporkan sudah mulai berjalan.
Tidak jelas apakah pasukan keamanan menjadikan para pengunjuk rasa sebagai sasaran langsung mereka atau mereka hanya melepaskan tembakan peringatan untuk membubarkan massa, namun para pejabat Birma mengatakan sembilan orang terbunuh pada hari Kamis. Perdana Menteri Inggris Gordon Brown mengatakan dia yakin bahwa jumlah korban jiwa "jauh lebih besar". Para bikhu, yang awalnya memimpin aksi protes, ditahan atau dilarang keluar dari vihara mereka. "Saya rasa kami tidak punya harapan lagi untuk menang," kata seorang wanita muda kepada kantor berita AFP. "Para bikhhu lah yang memberi kami keberanian." Belum jelas siapa pejabat pemerintah Birma yang boleh ditemui Gambari, meski Gedung Putih mengatakan utusan PBB itu harus diijinkan untuk menemui "siapa saja yang dia inginkan", termasuk tokoh oposisi Aung San Suu Kyi. Tanggapan internasional Semalam, Amerika Serikat mengatakan mereka akan melarang puluhan anggota pemerintah militer Birma mendapatkan visa perjalanan ke Amerika. Keputusan ini diambil setelah Departemen Keuangan AS mengatakan pihaknya akan membekukan semua aset milik 14 pejabat pemerintah dan militer Birma yang ada di Amerika.
Langkah baru ini menandai pengetatan terbaru atas sanksi terhadap rezim Birma selama 10 tahun ini, yang menurut para pengamat tidak berhasil. Sementara itu, Jepang mengatakan mereka akan meninjau kembali program-program bantuan bagi Birma setelah seorang wartawan Jepang ditembak mati ketika meliput unjuk rasa di Rangoon. Kelompok-kelompok kemanusiaan mengatakan selain menjadi korban kekerasan aparat, banyak rakyat Birma juga kesulitan mendapat makanan karena bantuan pangan terhambat oleh penutupan jalan oleh militer. Program Pangan Dunia (WFP) mengatakan kirim bantuan pangan bagi sekitar 500.000 orang yang membutuhkan di Birma tidak bisa masuk. | Korban di Birma 'lebih banyak'28 September, 2007 | Berita Dunia Jepang minta penjelasan Birma28 September, 2007 | Berita Dunia | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||