BBCIndonesia.com
  • Bantuan
 
Diperbaharui pada:
 
Email kepada teman Versi cetak
Pejabat Virginia Tech disalahkan
 
Cho Seung-hui
Pelaku pembunuhan, Cho Seung-hui, adalah seorang mahasiswa di universitas.
Banyak orang bisa terselamatkan jika pejabat di Virginia Tech bertindak lebih cepat setelah pembunuhan pertama Cho Seung-hui, demikian laporan resmi mengenai penembakan itu.

"Peringatan kepada mahasiswa, fakultas dan staf mungkin akan menjadi lain, " bunyi laporan itu.

Panel independen juga menyimpulkan meskipun Cho menunjukkan tanda-tanda kelainan jiwa sebelumnya, staf kampus tidak campur tangan secara efektif.

Cho membunuh 32 orang dan dirinya di universitas itu bulan April dalam sebuah insiden penembakan terburuk dalam sejarah modern Amerika.

Panel beranggotakan delapan orang yang ditunjuk Gubernur Virginia Tim Kaine menyatakan, para pejabat seharusnya mengeluarkan peringatan atau membatalkan pelajaran di kelas setelah Cho menembak dua korban pertamanya, Emily Hilscher dan Ryan Clark di sebuah asrama setelah pukul 07.00 tanggal 16 April lalu.

"Departemen Polisi Virginia Tech bertindak keliru tidak meminta peringatan ke seluruh kampus bahwa dua orang terbunuh dan semua mahasiswa dan staf harus berhati-hati dan siaga," tulis laporan itu.

Polisi kampus semua menyangka pacar Emily Hilscher yang menembak itu sehingga dianggap insiden lokal dan berusaha menemukan dia.

"Pengelola senior universitas gagal mengeluarkan peringatan kepada semua kampus mengenai pembunuhan West Ambler Johnston hampir dua jam berlalu," demikian laporan itu.

Lebih dari dua jam kemudian Cho membunuh 30 mahasiswa dan dosen, ditambah dirinya di komplek Norris Hall di bagian lain kampus.

Pesan peringatan

Pada pukul 0926, universitas mengirimkan sebuah email kepada mahasiswa dan staf memperingatkan "penembakan di kampus" dan mendesak agar berhati-hati.

Virginia Tech
Sebanyak 27 mahasiswa yang meninggal diberi gelar.

Namun, sementara penguncian ruangan mungkin membantu melindungi sejumlah mahasiswa dan dosen, namun juga tidak efektif menghentikan Cho yang "mulai dalam misi mewujudkan fantasi balas dendamnya", kata laporan tersebut.

"Dari apa yang kami ketahui terhadap kondisi kejiwaannya dan komitmennya untuk bertindak hari itu, kemungkinan dia akan bertindak mewujudkan fantasinya apakah di dalam kampus atau di luar sama seperti itu," katanya.

Panel ahli itu juga mengetahui bahwa sebagai seorang mahasiswa, Cho memiliki akses kepada peringatan serupa sama seperti orang lainnya dan akses kepada gedung-gedung kampus.

Laporan itu menyimpulkan bahwa penguncian ruangan di 131 gedung di kampus Virginia Tech tidak cukup waktunya pada hari yang sama dan kecil sekali kemungkinan universitas dapat menjaga gedungnya untuk bisa menghentikan serangan Cho.

"Tampaknya tidak ada skenario yang memadai dari tanggapan universitas terhadap pembunuhan ganda yang bisa mencegah tragedi besar tanggal 16 April," tulis panel penyelidik pembunuhan di kampus Virginia Tech.

 
 
Berita utama saat ini
 
 
Email kepada teman Versi cetak
 
  Bantuan | Hubungi kami | Tentang kami | Profil staf | Pasokan Berita RSS
 
BBC Copyright Logo ^^ Kembali ke atas
 
  Berita Dunia | Berita Indonesia | Olahraga | Laporan Mendalam | Ungkapan Pendapat | Surat dari London
Bahasa Inggris | Berita Foto | Cuaca
 
  BBC News >> | BBC Sport >> | BBC Weather >> | BBC World Service >> | BBC Languages >>
 
  Bantuan | Privacy