http://www.bbc.com/indonesian/

26 Juli, 2007 - Published 12:59 GMT

Rumah tahan banjir di Belanda

Desainer bangunan Belanda menyodorkan rancangan rumah tahan banjir di tengah air bah yang melanda beberapa tempat seperti Gloucestershire di Inggris dan Morowali di Indonesia.

Rancangan rumah tahan banjir yang dibuat di Belanda tersebut mungkin menjadi salah satu jalan keluar di masa depan.

Wartawan BBC Jack Izzard berkunjung ke salah satu rumah tahan banjir di Maasbomel, Belanda selatan.

Kehadiran rumah tahan banjir itu tidak tampaknya tidak merisaukan kawanan itik-itik di Sungai Maas. Mereka tampak sama gembiranya di darat dan di air, begitu juga dengan sebuah rumah di pinggir sungai itu.

Dari depan, rumah itu tampak sama seperti rumah-rumah biasa lain; ada tempat parkir, ada kotak surat dan juga patung di taman.

Di balik yang terlihat itu barulah kelihatan bahwa rancangannya amat unik, fondasinya bukanlah semen padat seperti biasa tapi sebuah blok semen yang di tengahnya kosong.

Ini karena Sungai Maas hanya beberapa meter dari rumah itu, dan jika air meluap dari sungai maka bagian dasar rumah akan berfungsi sebagai perahu sehingga seluruh rumah mengambang di atas air.

Pemilik rumah Angelique van Doran, mengatakan dia menikmati pemandangan indah karena selalu terlihat air dan perahu-perahu dari rumahnya itu.

"Dan, ada saja yang bisa dikerjakan di air dekat rumah. Saya sangat suka," katanya.

Jangkar

Sebatang tiang baja berfungsi sebagai jangkar, sehingga rumah tidak akan terbawa gelombang jika mengambang di atas air.

Kabel listrik dan pipa air bersih bisa diulur, sehingga rumah masih bisa menikmati listrik dan air bersih jika terangkat hingga 4 meter di atas permukaan air yang normal.

Banjir merupakan bagian dari kehidupan di Belanda selama bertahun-tahun dan para insinyur berupaya keras untuk mengendalikan air dan membangung tanggul dan bendungan.

Namun, sang perancang rumah tahan banjir ini menegaskan bahwa rumah rancangannya bekerja sama dengan air dan bukan melawan air.

Rumah tahan banjir ini jelas tidak murah, sekitar 400.000 dollar (sekitar Rp3,6 miliar), tapi jelas akan menjadi model masa depan di daerah-daerah yang rentan banjir, kata wartawan BBC.