30 Juni, 2007 - Published 12:16 GMT
Tempat pemungutan suara telah tutup di Timor Leste bagi pemilihan parlemen pertama yang didominasi janji memperbaiki ekonomi dan keamanan.
Partai yang berkuasa Fretilin ditantang oleh partai baru yang didirikan oleh tokoh kemerdekaan Xanana Gusmao, yang baru-baru ini mundur sebagai presiden.
Partai Xanana ini diperkirakan akan mendapatkan suara cukup banyak, namun tidak ada satu partaipun yang bisa memenangkan mayoritas.
Timor Leste berpisah dari Indonesia di tahun 1999 dan mencapai kemerdekaan di tahun 2002.
"TPS sudah ditutup. Hari ini, proses pemberian suara berlangsung damai tanpa adanya insiden besar," kata juru bicara PBB, Allison Cooper.
Pasukan penjaga perdamaian
Sejak merdeka, Timor Leste masih berjuang guna mencapai kemakmuran dan stabilitas.
Pasukan penjaga perdamaian internasional ditempatkan di Timor Leste tahun lalu, setelah terjadi keriburan antara berbagai unit tentara dan polisi yang kemudian menjadi tindak kekerasan.
Kekerasan ini melebar ke jalan-jalan dan menimbulkan korban 30 orang tewas, dan menyebabkan puluhan ribu orang harus meninggalkan rumah mereka.
Sekitar 522 ribu orang mendaftar untuk ikut pemilu guna memilih 65 anggota parlemen.
Dalam beberapa minggu terakhir, kampanye pemilu berlangsung semarak di Dili, dan sejak subuh, beberapa pemilih sudah datang guna memberikan suara.
"Saya bangun lebih pagi guna memberikan suara bagi masa depan negeri ini," kata seorang supir taksi, Justino da Costa kepada kantor berita AFP.
Sementara dua penduduk lain kepada BBC mengatakan pemilu kali ini diharapkan akan membawa stabilitas bagi negeri tersebut.
"Pada hari pemilu ini, saya berharap stabilitas akan kembali lagi ke negeri ini. Ini harapan utama saya," kata seorang pria.
"Harapan utama saya bagi masa depan Timor Leste, sedikitnya kami mendapatkan stabilitas dan perdamaian. Kami betull-betul berharap akan mendapatkan situasi yang damai." kata pria lainnya.
14 partai
Ada 14 partai yang ikut dalam pemilu, namun pertarungan utama tampaknya adalah antara Fretilin, partai yang memerintah negeri itu sejak kemerdekaan, dan partai Xanana Gusmao, Kongres Nasional bagi Pembangunan Kembali Timor Leste.
Pemimpin Fretilin, dan mantan perdana menteri Mari Alkatiri - yang dipaksa mengundurkan diri setelah kekerasan tahun lalu - menuduh Gusmao memiliki kecenderungan otoriter.
"Xanana selalui berusaha mencari kekuasaan." kata Alkatiri kepada kantor berita AP hari Kamis.
"Dia tidak memiliki kapasitas. Dia tidak memiliki rencana sama sekali. Dia hanya berusaha menggunakan kharismanya saja."
Gusmao menggunakan kampanyenya untuk mendiskreditkan Alkatiri yang disebut sudah berusaha dan gagal selama pemerintahan terdahulu.
"Selama lima tahun Fretilin, Alkatiri adalah bos besar dari pemerintahan yang gagal." kata Gusmao.
Tewasnya dua pendukung Xanana Gusmao di awal kampanye menimbulkan kekhawatiran akan adanya tindak kekerasan.
Namun kampanye akhirnya berlangsung damai, dengan hanya beberapa perkelahian kecil yang membuat beberapa orang terluka.