17 Juni, 2007 - Published 11:13 GMT
Iran mengutuk keputusan Inggris memberikan gelar kebangsawanan kepada kepada penulis Salman Rushdie.
Pemerintah Iran mengeluarkan keputusan Tahun 1989 yang berisi perintah pembunuhan terhadap Salman Rushdie karena bukunya Ayat Ayat Setan dipandang menghina Islam.
Jurubicara Departemen Luar Negeri Iran, Mohammad-Ali Hosseini, mengatakan pemberian gelar itu sebagai tindakan konfrontasi, dan membuat Inggris berseberangan dengan Islam.
Salman Rushdie, yang berusia 59 tahun, kini berhak untuk menggunakan gelar Sir di depan namanya.
Namun Hosseini membandingkannya dengan penyerangan terhadap tempat suci Syiah di Samara, yang dilihat sebagai penyerangan kelompok pendudukan terhadap Islam
Mau menutup kedutaan
![]() | |
| Rushdie dan pasangannya Padmalaksmi tinggal di Inggris |
Wartawan BBC di Teheran, Frances Harrison, melaporkan keputusan pemerintah Inggris tersebut jelas akan membuat marah kelompok radikal Iran.
Kelompok itu kini berupaya untuk mencari dukungan bagi penutupan kedutaan besar Inggris di Teheran.
Mohammad Ali Hosseini juga merujuk kembali pada karikatur yang mengejek Nabi Muhamad yang diterbitkan di Denmark.
Ketika itu pemerintah Denmark berupaya menjaga jarak dari suratkabar yang menerbitkan kartun tersebut.
Tetapi di Inggris, menurut Hosseini, pemerintah Inggris memberi gelar kebangsawanan pada taannya Salman Rushdie.
Pada hari Kamis 14 Juni, sekelompok mahasiswa berusaha mengacaukan pesta ulang tahun Ratu Inggris di Kedutaan Besar Inggris di Iran.
Dan foto sejumlah tamu warga Iran, yang berusaha menutupi wajahnya ketika meninggalkan kedutaan, telah ditaruh di internet untuk menyebarkan nama mereka dan mempermalukan karena berhubungan dengan warga asing.