|
Rumah tsunami belum tuntas | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Ribuan keluarga korban tsunami di Aceh hingga kini masih belum mendapat rumah permanen. Masalah ini timbul karena mereka terancam diusir karena masa kontrak tanah barak sudah habis. Namun, Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi Aceh, BRR, berharap semua pengungsi akan segera ditempatkan ke rumah permanen. Data dari forum Advokasi Pengungsi Aceh memperlihatkan, lebih dari 13 ribu keluarga korban Tsunami Aceh terancam kehilangan tempat tinggal, seperti dikatakan Hendra Saputra dari Forum Advokasi Pengungsi Aceh. Selain puluhan ribu warga meninggal, tsunami juga menyebabkan sekitar 128 ribu keluarga menjadi pengungsi. BRR yang dibentuk untuk membangun kembali Aceh sejauh ini telah membangun 71 ribu rumah. Menanggapi pernyataan Forum advokasi pengungsi Aceh, BRR menyatakan hanya terdapat enam ribu keluarga yang masih tinggal di barak pengungsian, karena sebagian besar tinggal di keluarga mereka. Kepala BRR Aceh dan Nias, Kuntoro Mangkusubroto mengatakan pihaknya sedang mengkaji perpanjangan sewa tanah barak pengungsian. Kuntoro mengatakan, sebanyak 32 ribu rumah diharapkan bisa dapat ditempati pada bulan November tahun ini. Sebelumnya dilaporkan bahwa banyak pihak mengkritik kelambanan pembangunan rumah permanen bagi para pengungsi ini. BRR menyebutkan banyak hambatan dalam pembangunan rumah permanen, termasuk pembangunan sekitar tujuh ratus rumah yang terhenti akibat ditinggalkan kontraktor. | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||