|
Etnik minoritas miskin sulit | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Komisi untuk kesetaraan Ras di Inggris mengatakan sebuah laporan yang mengisyaratkan tingkat kemiskinan yang tinggi dikalangan etnik minoritas menunjukkan berlakunya sistem Apartheid yang tidak kelihatan. Penelitian yang dilakukan Yayasan Joseph Rowntree menunjukkan bahwa lebih dari separuh anak-anak dengan latar belakang keturunan Pakistan, Bangladesh, dan Afrika tumbuh dalam kemiskinan. Laporan ini menunjukkan nasib bayi yang lahir di Inggris ditentukan oleh ras mereka, bukannya oleh kemampuannya. Demikian dilaporkan pimpinan Komisi Persamaan Ras, Kate Hampton. Kajian tersebut mengisyaratkan penduduk minoritas etnik masih kecil kemungkinannya mendapatkan wawancara kerja dibandingkan dengan kulit putih. Sementara yang mendapatkan pekerjaanpun, sulit untuk mendapatkan kenaikan jabatan. Para peneliti menggarisbawahi masalah yang dihadapi wanita Inggris keturunan Bangladesh dan Pakistan. Meskipun banyak dari mereka belajar di universitas, masih kecil kemungkinan mereka mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang baik karena prasangka para majikan. Sebagian dari mereka misalnya percaya wanita dari kelompok minoritas akan dipaksa berhenti bekerja oleh keluarganya jika mereka mempunyai anak. Pemerintah mengakui masih banyak hal yang perlu dilakukan. Gugus Tugas Pekerjaan bagi Minoritas Etnis telah dibentuk dan akan menyampaikan laporan kepada para menteri dalam beberapa bulan ke depan. | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||