BBCIndonesia.com
  • Bantuan
 
Diperbaharui pada: 28 April, 2007 - Published 20:05 GMT
 
Email kepada teman Versi cetak
Bom Karbala tewaskan puluhan
 
Dampak ledakan di Karbala
Ledakan terjadi di kawasan dipadat peziarah dan pembelanja
Sebuah bom mobil meledak di kota Karbala, Irak dan menewaskan sedikitnya 55 orang.

Ledakan terjadi di dekat masjid berkubah emas, tempat keramat Imam Abbas, yang sudah dilindungi dengan penghalang.

Bom yang meledak di kawasan yang dipadati peziarah dan orang yang berbelanja juga menyebabkan setidaknya 70 orang terluka.

Karbala merupakan salah satu tempat paling keramat dalam keyakinan muslim Syiah dan sudah sering menjadi sasaran serangan militan perlawanan Sunni.

Pembom bunuh diri menewaskan sedikitnya 42 orang di Karbala pada 14 April.

Kecam Bush

Sebelumnya, ulama Syiah berpengaruh, Moqtada al-Sadr mengecam Presiden Bush karena menolak menetapkan jadwal penarikan pasukan Amerika dari Irak.

Korban ledakan di Karbala
Sebagian korban terjebak pemboman dalam perjalanan ke tempat ibadah

al-Sadr menyebut Presiden Bush setan, karena menolak mematuhi hasil voting Kongres dan mencemooh presiden Amerika karena mengesampingkan aspirasi para anggota partainya, Republik, yang sebagian mendukung pasukan Amerika mulai ditarik bulan Oktober.

Dalam pernyataan yang dibacakan atas namanya, Moqtada Sadr mengatakan, situasi di Irak tidak mungkin memburuk dari keadaan sebelumnya setelah Amerika mundur.

Kubu pendukung Sadr merupakan salah satu unsur terbesar dalam aliansi politik Syiah yang menjadi inti pemerintah Irak.

Namun, seperti isi pernyataan senada sebelumnya, pernyataan ini dibacakan atas nama Moqtada.

Militer Amerika mengatakan, ulama tersebut telah kabur ke Iran. Namun, para pendukungnya menyatakan dia bersembunyi di Irak.

Beberapa pekan ini, ulama ini mempergencarkan kecamannya. Dan, awal bulan ini, dia memerintahkan beberapa menteri kabinet dari kubu Sadr mundur dari jabatannya mereka, sebagai protes terhadap penolakan Perdana Menteri Irak untuk mendukung jadwal penarikan mundur militer Amerika.

Menurut banyak pihak, Moqtada al-Sadr kini harus menanggapi keresahan di tubuh organisasinya, akibat tekanan yang dihadapi milisi Mahdi yang dia pimpin selama operasi militer gabungan Amerika-Irak untuk menstabilkan Baghdad.

Kendati banyak anggota milisi Mahdi telah meninggalkan ibukota, ratusan lain ditahan.

Regu maut

Dalam perkembangan lain, seorang politisi terkemuka Sunni Adnan al-Dulaimi mengatakan, serangan oleh regu maut milisi Syiah terhadap warga Sunni kembali meningkat.

Adnan al-Dulaimi mendesak pasukan Amerika dan Irak agar bertindak lebih jauh untuk mencegah serangan.

Wartawan BBC di ibukota Irak, Baghdad Andrew North melaporkan, muncul kekhawatiran terjadinyanya peningkatan pertumpahan darah sektarian, akibat serangan bom mobil oleh ekstrimis Sunni terhadap kawasan warga Syiah di Baghdad melonjak tajam.

 
 
Berita utama saat ini
 
 
Email kepada teman Versi cetak
 
  Bantuan | Hubungi kami | Tentang kami | Profil staf | Pasokan Berita RSS
 
BBC Copyright Logo ^^ Kembali ke atas
 
  Berita Dunia | Berita Indonesia | Olahraga | Laporan Mendalam | Ungkapan Pendapat | Surat dari London
Bahasa Inggris | Berita Foto | Cuaca
 
  BBC News >> | BBC Sport >> | BBC Weather >> | BBC World Service >> | BBC Languages >>
 
  Bantuan | Privacy