http://www.bbc.com/indonesian/

Bom mobil di Baghdad, 60 tewas

Lebih dari 60 orang tewas dan 131 cedera dalam tiga ledakan bom di kawasan hunian warga syiah di ibukota Irak, Baghdad, kata polisi.

Dua ledakan mengguncang salah satu pasar di kawasan Baghdad Baru, dan menewaskan 60 orang. Dua orang lain tewas akibat ledakan lain di kawasan Sadr City.

Serangan beruntun ini adalah yang paling mematikan sejak operasi keamanan gabungan Irak dan Amerika dilancarkan Rabu lalu.

Sebelumnya Irak mulai membuka kembali perbatasan Irak dengan Iran dan perbatasan Irak dengan Suriah setelah melakukan satu operasi keamanan, kata para pejabat Irak.

Perbatasan itu ditutup selama tiga hari sebagai bagian dari satu operasi yang bertujuan mengurangi kekerasan antar kelompok agama dan kekerasan akibat perlawanan dari kelompok penentang.

Secara bertahap

Di perbatasan Shalamca, di sebelah Timur kota Basra, dan penutupan-penutupan yang diberlakukan disepanjang perbatasan dengan Iran sudah dibuka kembali, kata pejabat Irak.

Militer Amerika Serikat mengatakan kelompok perlawanan Irak menerimba bantuan dan senjata dari Iran dan Suriah, tetapi kedua negara membantah melakukan penyelundupan senjata.

"Kami menerima perintah dari Perdana Menteri Nouri Al Maliki untuk membuka pos pos perbatasan mulai dari jam 0600 pagi (0300GMT)," kata Jenderal Rahdi Mohassen kepada kantor berita Perancis, AFP.

Dua rute utama menuju Suriah dan empat rute ke Iran sudah dibuka kembali, kata seorang pejabat keamanan senior di Baghdad. Rute-rute lain akan dibuka secara bertahap.

Amerika dituduh ingin memecah umat Islam

Operasi keamanan di perbatasan adalah bagian dari operasi yang lebih luas dimana puluhan ribu pasukan tambahan Amerika dan Irak sudah dikerahkan untuk meredakan kekerasan antara kelompok Shiah dan Sunni di Irak.

Penutupan perbatasan dilakukan setelah ada berbagai laporan yang mengatakan bahwa pemimpin kelompok radikal Shiah, Moqtada Al Sadar dan para pendukungnya dari Tentara Mehdi, sudah melarikan diri ke Iran.

Tetapi jurubicara kementrian luar negeri Iran, Mohammed Ali Hosseini, membantah pernyataan-pernyataan itu.

"Pernah pihak Amerika mengklaim bahwa dia sudah melarikan dari Irak, dua minggu kemudian mereka mengklaim bahwa dia ingin memasuki Iran, tetapi pihak Iran tidak memberikannya visa," tambah Ali Hosseini.

"Mereka sengaja mengeluarkan pernyataan-pernyataan palsu itu. Klaim yang tak berdasar ini adalah perang urat syaraf yang dilakukan Amerika di Irak agar bisa menekan Iran. Tidak, dia tidak ada di Iran."

Sementara itu, pemimpin Iran dan Suriah menuduh Amerika, yang menerjunkan 140 ribu pasukan di Irak mengacaukan negara itu dan Libanon untuk memecah kaum Muslim di kawasan itu.

"Mereka ingin mendesak rakyat dan pemerintah untuk menggunakan rasa kesukuan dan menciptakan perpecahan di dunia Islam. Itulah kartu terakhir yang berusaha mereka gunakan, "kata Presiden Suriah, Bashar al-Assad sebelum meninggalkan Teheran setelah melawat selama dua hari.