http://www.bbc.com/indonesian/

31 Oktober, 2006 - Published 09:16 GMT

Pawai kecam serangan udara

Masyarakat adat di Pakistan melakukan pawai unjuk rasa mengecam serangan udara atas sekolah dan madrasah yang diduga kamp-kamp militan.

Sedikitnya 10.000 orang turun ke jalan-jalan di kota Khar, dekat lokasi serangan udara yang dilancarkan militer Pakistan dengan dukungan Amerika Serikat.

Presiden Pervez Musharraf mengatakan 80 orang yang tewas adalah militan bukan siswa seperti yang dikatakan para pengunjuk rasa.

Namun satu orang yang selamat dari serangan itu mengatakan kepada kantor berita Associated Press bahwa yang tewas adalah para siswa dan sekolah itu tidak digunakan oleh militan.

Pawai di kota Khar, yang merupakan kota terbesar di Provinsi Bajaur, berlangsung lebih awal dari rencana unjuk rasa di kota-kota lainnya.

Kepolisian mengerahkan pasukan tambahan ke Bajaur, yang terletak dekat dengan perbatasan Afghanistan dan menutup jalan ke Khar.

'Berbohong'

Dalam komentar pertamanya sejak serangan tersebut, Pervez Musharraf mengatakan orang-orang tewas adalah "militan yang melakukan latihan militer".

"Kami memantau mereka selama enam atau tujuh hari terakhir - kami tahu benar siapa mereka, apa yang mereka lakukan," katanya dalam jumpa pers di Islamabad.

"Siapa pun yang mengatakan mereka adalah orang-orang tidak bersalah [siswa sekolah agama] berbohong," tegasnya.

Tetapi Abu Bakar, salah satu dari tiga orang yang selamat dari serangan membantah kata-kata presiden.

"Tidak ada latihan militan di madrasah," katanya kepada Associated Press (AP) dari tempat tidurnya di rumah sakit.

Militer Pakistan sudah menegaskan bahwa mereka yang melakukan serangan dan menewaskan 80 militan.

Namun para pengunjuk rasa mengatakan korban yang tewas adalah siswa sekolah dan madrasah.

Para pengunjuk rasa meneriakkan 'Mati Bush' dan menyerukan jihad terhadap Amerika.

Charles tunda kunjungan

Unjuk rasa nasional direncanakan akan berlangsung di beberapa kota Pakistan dan Pangeran Charles sudah menunda kunjungan ke Provinsi Peshawar.

Putra mahkota Kerajaan Inggris ini rencananya akan berkunjung ke Peshawar yang berbatasan dengan Bajaur, tempat serangan atas sekolah dan madrasah berlangsung.

Jurubicara Pangeran Charles mengatakan penundaan ini mengikuti saran dari pemerintah Pakistan.