22 September, 2006 - Published 11:34 GMT
Rakyat Gambia memilih presiden mereka dengan sistem yang unik yaitu dengan menggunakan kelereng dalam kotak pemilihan suara.
Para pemilih memasuki tempat pemungutan suara dan memasukkan kelereng ke salah satu dari tiga drum yang mewakili para calon, dan tidak menggunakan kertas suara.
Saat kelereng jatuh ke drum, akan membunyikan bel sehingga para pejabat pemilihan dapat mengetahui bila ada yang memilih lebih dari satu kali.
"Sistem unik ini diterapkan tahun 1965 karena tingginya angka buta huruf Gambia," kata ketua komisi pemilihan Gambia Kawsu Ceesay kepada BBC.
Bel yang digunakan mirip bel sepeda sehingga sepeda tidak boleh berada di seputar tempat pemungutan suara untuk menghindari kebingungan.
"Tiga drum itu mewakili tiga calon presiden, dan diletakkan dalam tiga tempat terpisah yang tersambung sehingga bila diangkat, tidak akan diketahui, mana yang lebih berat," katanya.
"Drum itu dicat dengan warna partai masing masing calon dilengkapi dengan foto dan simbol partai."
Drum untuk presiden saat ini Yahya Jammeh berwarna hijau, sementara saingannya Ousainou Darboe dan Halifa Sallah masing masing berwarna kuning dan abu abu.
Di dasar drum dimasukkan pasir sebelum diperiksa oleh calon partai dan ditutup dengan segel yang diberi nomor.
Setelah itu para pemilih mencap jari mereka dengan tinta yang sulit dihapus.
Kelereng kelereng itu dimasukkan ke drum melalui pipa dan kelereng yang tersempal di pipa dianggap sebagai suara yang cacat.
"Sistem ini juga akan membuat proses penghitungan lebih transparan," kata Ceesay.
Kelereng kelereng itu ditempatkan dalam satu baki dengan 200 atau 500 lubang, sehingga memudahkan para pejabat pemilihan menghitung.