08 September, 2006 - Published 08:57 GMT
Bom menewaskan belasan orang di Kabul, beberapa jam menjelang para pejabat tinggi Nato membahas tambahan 2000 tentara ke Afghanistan.
Seorang pembom bunuh diri menyerang kendaraan militer Amerika di ibukota Afganistan, Kabul, dan mengenai sebuah kendaraan Humvee, menewaskan paling tidak dua tentara Amerika dan mencederai dua orang lain.
Serangan ini terjadi di dekat kedutaan besar Amerika.
Pejabat rumah sakit setempat mengatakan kepada BBC, hampir 30 orang terluka.
Perkembangan ini terjadi sementara para jenderal Nato berkumpul di Polandia guna membahas penambahan pasukan di Afghanistan.
Pasukan Nato di Afghanistan selatan menghadapi perlawanan sengit Taliban dan mengalami korban yang terus bertambah.
Jarak dekat
Wartawan BBC dari tempat kejadian mengatakan, puing puing dari ledakan, termasuk serpihan dari kendaraan lapis baja, terlempar ratusan meter.
Wartawan Alistair Leithead mengatakan, ledakan sebesar ini jarang terjadi di pusat kota Kabul.
Saksi Najibullah Faizi, 25 tahun, mengatakan kepada kantor berita Associated Press bahwa dia melihat sebuah mobil biru menerjang salah satu kendaraan lapis baja di konvoi militer AS.
"Saya jatuh ke tanah setelah ledakan. Serdadu Amerika mulai menembaki sebuah mobil lain yang lewat. Asap dan api di mana-mana," katanya.
Seorang pria yang mengaku jurubicara Taliban mengatakan kepada kantor berita Afghanistan, kelompok pemberontak bertanggungjawab atas serangan itu.
Pernyataan semacam itu tidak selalu terbukti bisa dipercaya, kendati Taliban melancarkan banyak serangan di Afghanistan.
Serangan ini terjadi ditengah persiapan para pemimpin militer Nato, dari dua puluh enam negara bertemu di Polandia hari ini untuk membicarakan pengerahan pasukan ke Afganistan guna memerangi Taleban.
Komandan Inggris di Afganistan Brigadir Ed Butler mengatakan kepada BBC, pertempuran melawan pemberontak Taleban jauh lebih sengit jika dibandingkan pertempuran di Irak.
"Sifat perangnya amat intense dan pasukan berhadapan langsung dengan Taliban, dalam beberapa kasus mereka berhadapan setiap jamnya," kara Butler
Menurut Butler, pasukan Inggris bertarung dengan Taliban dalam jarak dekat dengan musuh. "Kami berhasil mengalahkan mereka setiap terjadi kontak senjata walau jatuh juga korban di pihak kami," tambahnya.
Taliban memerintah Afghanistan hinggal penghujung tahun 2001, saat mereka ditumbangkan oleh pasukan pimpinan AS pasca serangan 11 September 2001 terhadap New York dan Washington.