BBCIndonesia.com
  • Bantuan
 
Diperbaharui pada: 20 Januari, 2006 - Published 04:30 GMT
 
Email kepada teman Versi cetak
Xanana serahkan laporan HAM
 
Xanana Gusmao
Xanana Gusmao ingin melihat ke masa depan
Presiden Timor Leste Xanana Gusmao menyerahkan laporan kontroversial tentang pelanggaran HAM oleh Indonesia kepada PBB.

Laporan disusun oleh Komisi Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi Timor Timur yang menyelidiki sikap aparat keamanan Indonesia selama 24 tahun terhadap Timor Timur.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa lebih dari 100.000 warga Timor Timur meninggal karena dibunuh, karena kelaparan atau karena sakit.

Dokumen setebal 2.500 halaman itu mencatat berbagai pelanggaran termasuk pembunuhan, penyiksaan, perkosaan dan penggunaan zat kimia napalm terhadap penduduk sipil.

Disebutkan bahwa pelanggaran yang dilakukan termasuk menggunakan kelaparan sebagai senjata.

Pemerintah Indonesia membantah laporan itu dengan mengatakan saatnya bagi kedua negara untuk melihat ke depan.

Melihat ke depan

"Kami setuju untuk bekerjasama bagi rekonsiliasi dan untuk menyelesaikan masalah bersama, karena itu kita tidak perlu melihat ke masa lalu karena hal itu tidak membantu," kata Menteri Sekretaris Negara Indonesia Yusril Ihza Mahendra.

Presiden Timor Leste Xanana Gusmao menyerahkan laporan tersebut ke Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan pada hari Jumat.

Peta
Laporan disusun Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi dari kesaksian ribuan orang

Xanana Gusmao mengatakan kepada para wartawan bahwa tujuan utama laporan itu adalah mengingatkan generasi muda untuk tidak melakukan kesalahan yang sama.

Dia menambahkan Timor Leste telah menciptakan hubungan kerja yang positif dengan Indonesia.

Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi Timor Timur dibentuk tiga tahun lalu dan didanai oleh pihak donor internasional.

Laporan yang disusun dari kesaksian ribuan orang itu diajukan kepada Presiden Xanana Gusmao tahun lalu namun tidak diumumkan.

Menteri Pertahanan Indonesia Juwono Sudarsono, kepada para wartawan hari Jumat di Jakarta membantah isi laporan tersebut.

"Bagaimana mungkin Indonesia menggunakan napalm terhadap penduduk Timor Timur. Saat itu kami tidak memiliki kemampuan untuk mengimport apalagi membuat napalm."

Perlakuan buruk

Xanana Gusmao menyampaikan laporan itu ke PBB, berdasarkan ketetapan hukum Timor Leste.

Laporan itu juga disebutkan mencakup pembantaian warga sipil dan kekejaman lain dan menyerukan agar lebih banyak pihak bertanggung jawab yang dituntut.

Hal ini tampaknya akan menimbulkan ketegangan baru antara Indonesia dan Timor Leste.

Laporan ini dapat membuat malu kedua pemerintah yang bertekad melupakan masa lalu.

Sejak pertama berkuasa, Xanana Gusmao menyerukan kepada rakyat Timor Leste untuk memusatkan pada rekonsiliasi dan bukan penuntutan.

Ia mengatakan sebagai negara yang kecil, Timor Leste harus bekerjasama dengan Indonesia.

Namun pihak lain merasa kecewa karena upaya menuntut mereka yang bertanggung jawab atas kekerasan di masa lalu, tidak banyak membuahkan banyak hasil.

 
 
Berita utama saat ini
 
 
Email kepada teman Versi cetak
 
  Bantuan | Hubungi kami | Tentang kami | Profil staf | Pasokan Berita RSS
 
BBC Copyright Logo ^^ Kembali ke atas
 
  Berita Dunia | Berita Indonesia | Olahraga | Laporan Mendalam | Ungkapan Pendapat | Surat dari London
Bahasa Inggris | Berita Foto | Cuaca
 
  BBC News >> | BBC Sport >> | BBC Weather >> | BBC World Service >> | BBC Languages >>
 
  Bantuan | Privacy