BBCIndonesia.com
  • Bantuan
 
Diperbaharui pada: 11 Januari, 2006 - Published 17:21 GMT
 
Email kepada teman Versi cetak
Penyiksaan anak terungkap
 
Gambar buatan anak yang menjadi korban kekerasan
Sampai tahun lalu diperkirakan ada ratusan kasus penyiksaan anak
Kasus kekerasan anak dalam waktu sepekan ini menjadi perhatian di ibukota Jakarta, dengan terkuaknya penyiksaan terhadap 3 anak oleh orangtua kandung mereka.

Di saat rasa terkejut masyarakat belum hilang mendengar kasus pembakaran dua anak balita oleh orangtuanya sendiri, muncul lagi berita bahwa seorang anak disetrika oleh ayah kandungnya.

Indah Novitasari, balita berusia 3 tahun, yang diduga dibakar orang tuanya awal bulan ini, akhirnya meninggal dunia Senin dini hari lalu setelah di rawat di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta.

Sementara, adiknya Lintar Saputra, yang berusia 11 bulan, masih dirawat di RSCM.

Sebelumnya, dalam kasus berbeda, Siti Ihtiatun Soleha, yang baru berusia 8 tahun, disetrika oleh ayah kandungnya sendiri.

Dua insiden yang terjadi pada minggu pertama 2006 menjadi ironis karena tahun ini sudah ditetapkan oleh Komisi Nasional Perlindungan Anak sebagai tahun penghentian kekerasan terhadap anak.

'Anak bukan milik orangtua'

Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak, Seto Mulyadi mengatakan penyebab utama kekerasan ini adalah adanya anggapan bahwa anak-anak adalah mutlak milik orang tua.

Dia menambahkan situasi itu diperparah oleh buruknya kondisi ekonomi yang dihadapi orangtua.

Sebenarnya Indonesia memiliki Undang-undang Perlindingan Anak sejak tiga tahun lalu lewat Undang-undang Nomor 23.

Namun nyatanya hingga tahun lalu jumlah kekerasan terhadap anak mencapai hituangan ratusan.

Juru Bicara Polda Metro Jakarta Kombes I Ketut Untung Yoga Ana mengakui bahwa jumlah kasus kekerasan yang ditangani kepolisian masih rendah.

Masalahnya tidak ada sanksi bagi anggota masyarakat yang tidak melaporkan adanya kekerasan terhadap anak.

Seto Mulyadi menegaskan adalah salah satu upaya pencegahan adalah keikutsertaan anggota masyarakat dalam melaporkan pelanggaran yang terjadi atau diduga terjadi.

Dalam UU Nomor 23 itu, pelaku kekerasan terhadap anak diancam hukuman penjara tiga sampai lima tahun dan/atau denda antara Rp 72 juta sampai Rp 100 juta.

Apabila pelaku adalah orang tua kandung si anak, maka ancaman hukuman ditambah sepertiga lagi.

 
 
Berita utama saat ini
 
 
Email kepada teman Versi cetak
 
  Bantuan | Hubungi kami | Tentang kami | Profil staf | Pasokan Berita RSS
 
BBC Copyright Logo ^^ Kembali ke atas
 
  Berita Dunia | Berita Indonesia | Olahraga | Laporan Mendalam | Ungkapan Pendapat | Surat dari London
Bahasa Inggris | Berita Foto | Cuaca
 
  BBC News >> | BBC Sport >> | BBC Weather >> | BBC World Service >> | BBC Languages >>
 
  Bantuan | Privacy