|
'Pahlawan tsunami' Aceh kuliah di Malaysia | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Pemuda Aceh yang selamat dari terjangan tsunami dan terapung selama 8 hari di Samudra Hindia, kini memulai hidup baru di Malaysia. Rizal Shahputra, kehilangan kedua orang tuanya dan dua saudara kandungnya dalam bencana alam Desember lalu. Seperti dilaporkan wartawan BBC di Jakarta, Dian Setianto, "pahlawan tsunami" Aceh itu mendapat beasiswa dari pemerintah Malaysia dan hari Kamis (28/4)memulai kehidupan sebagai mahasiswa di Kuala Lumpur. Tepat pada hari tsunami menerjang Aceh, Rizal Shahputra sedang membersihkan masjid di dekat pantai di Calang, Aceh Barat. Dia tersapu air dan terbawa ke laut selama lebih seminggu. Dia kemudian dibawa ke rumah sakit di Malaysia. Di sana, Rizal, yang di Aceh tidak mendapat kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruang tinggi, ditawari untuk kuliah di Malaysia. "Dua hari di RS saya langsung ditawari oleh orang dari Depdiknas Malaysia. Saat ini saya belajar bahasa Inggris dulu," kata Rizal. "Kalau bisa selesai 3 bulan, kalau tidak setahun. Kalau nilai Inggris bagus, akan ambil diploma dan kalau bagus hasilnya akan ambil S1."
Rizal mendapat tempat di University College Sedaya International di Kuala Lumpur. Putra Tanah Rencong ini berharap bisa mengambil jurusan teknologi komunikasi dan informasi. Rizal memutuskan untuk memulai kehidupan baru di Malaysia karena musibah yang menimpanya membuat dia berat untuk kembali ke kampung halaman. Namun Rizal tetap bertekat membantu rakyat Aceh. "Saya harus betul-betul belajar. Saya ingin ambil S2 dan berusaha untuk sukses. Saya tidak mau kembali tinggal di Aceh. Saya tidak bisa ceria lagi setelah melihat kampung saya rata." Tapi Rizal mengatakan dia akan tetap datang ke Aceh untuk membantu rakyat di sana. "Di Malaysia saya bisa bahagia sedikit meskipun tanpa keluarga," katanya. Nasib yang lain Di Aceh banyak anak dan remaja yang sampai saat ini masih belum dapat melanjutkan sekolah mereka.
Abdul Jalil dari HMI Meulaboh Perduli Pendidikan mengatakan Rizal mendapat kesempatan berharga karena di Aceh sendiri ada sekitar 40 ribu anak putus sekolah akibat bencana tsunami. Dan menurut Abdul Jalil banyak dari mereka masih memiliki orang tua tetapi kehilangan mata pencaharian sehingga tidak dapat membiayai sekolah. "Di sekitar Aceh ini 40 ribu. Tidak berarti orangtua mereka ditelan tsunami. Kalau rumah dan perekonomian orang tua hancur dapat menyebabkan putus sekolah juga," kata Abdul Jalil. Menurut Jalil lagi, mereka malah yang lebih menderita. "Anak yatim piatu kalau hari ini tidak dapat bantuan, ke depan akan dapat bantuan." "Tapi kalau orang tidak mampu yang miskin dan kehilangan mata pencarian , mereka lebih parah lagi meksipun punya orang tua. Mereka tidak ada yang memperhatikan." Saat ini menurut pantauan HMI Meulaboh Perduli Pendidikan, sebagian besar bantuan pendidikan yang diterima Aceh masih berupa bantuan fisik seperti buku pelajaran, bangku dan gedung sekolah, serta tenaga pengajar. Sementara bantuan biaya pendidikan dan tawaran beasiswa sangat terbatas. |
| ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||