18 Februari, 2005 - Published 10:47 GMT
Pihak berwenang di Nepal telah memutuskan saluran telpon lagi di hari aksi unjuk rasa pro demokrasi direncanakan akan dilakukan.
Langkah serupa juga diambil saat Raja Gyanendra melakukan kudeta politik dua minggu lalu dengan alasan keamanan.
Sementara itu Amerika Serikat mengatakan pihaknya akan menangguhkan bantuan militer bila raja tidak segera mengembalikan kekuasaan ke pemerintah terpilih.
AS, Uni Eropa dan India telah menarik duta besar mereka dari Kathmandu.
Kecaman meningkat
Wartawan BBC Charles Haviland di Kathmandu mengatakan, telpon di sana terus memberikan nada sibuk sepanjang Jumat, mirip seperti situasi selama seminggu setelah kudeta pihak kerajaan, sementara saluran telpon selular diputuskan.
Pada saat yang sama, pihak berwenang terus melakukan penangkapan.
Rakyat Nepal sekali lagi tidak akan mengetahui kondisi keluarga dan kawan-kawan mereka yang tinggal jauh dari mereka.
Layanan medis dan polisi akan sulit dilakukan.
Arus informasi yang diandalkan media massa tidak akan didapat selama seluruh saluran komunikasi diputuskan.
Hal ini dipersulit dengan terus berlangsungnya penyensoran dan penahanan orang-orang yang tidak dipercaya pihak berwenang.
Nepal mendapat semakin banyak kecaman sejak Raja Gyanendra mengambil alih kekuasaan dua minggu yang lalu.
Organisasi pembela hak asasi manusia Amnesty International, yang baru saja mengunjungi Nepal, memperingatkan bahwa pelanggaran hak asasi manusia akan meningkat, karena orang-orang yang menunjukkan pelanggaran pihak militer dan pemberontak Maois sekarang dibungkam.
Utusan AS untuk Nepal James Moriarty mengatakan kepada wartawan di Washington bahwa penghentian bantuan militer oleh AS, negara-negara Eropa dan India tetap menjadi pertimbangan serius pemerintah negara-negara tersebut.
Negara-negara donor besar seperti India, AS dan Uni Eropa mengatakan mereka sedang meninjau kembali bantuan kepada Nepal.
Hari Selasa, Denmark menjadi negara pertama yang menangguhkan program bantuannya.
Nepal menjawab kecaman itu dengan mengatakan pihaknya perlu mengambil langkah-langkah tersebut untuk memerangi perlawanan kelompok Maois yang telah berlangsung lama.
Kelompok Maois telah mengadakan perlawanan selama sembilan tahun, yang menewaskan 11.000 orang.