|
Jawa Timur ajang persaingan ketat | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Dengan jumlah pemilih terbesar di Indonesia, Jawa Timur akan menjadi ajang perebutan suara utama bagi para calon presiden. Dan sebagian besar akan membujuk suara pemilih tradisional dari pengikut Nahdlatul Ulama, yang diperebutkan oleh sekurangnya dua calon presiden. Karena persaingan ketat itu, kemungkinan timbulnya konflik sudah diantisipasi oleh kalangan kepolisian. Namun wartawan BBC Sastra Wijaya melaporkan dari Surabaya bahwa kalangan lain melihat sepinya kampanye calon presiden menunjukkan rakyat sudah lebih matang dalam mengambil jarak terhadap calon presiden yang ada. Jadi fanatisme pemilih tidak seperti dalam masa-masa sebelumnya dan potensi konflik dianggal lebih kecil. Potensi konflik Sekitar 27 juta pemilih di Jawa Timur memang menjadi sumber yang sangat besar untuk mendukung perolehan suara calon presiden. Selain jumlah pemilih terbanyak dalam satu propinsi, Jawa Timur juga dikenal sebagai sarang berbagai kekuatan, mulai dari PDI Perjuangan, pemilih tradisional Islam, maupun Golkar. Sehingga sempat ada kekuatiran pihak keamanan akan timbulnya konflik pasca pemilihan. Dan Kepala Bidang Operasional Polda Jatim, Komisaris Besar Heru Setiawan menyamakan penduduk Jawa Timur dengan para pendukung sepak bola. "Penghitungan kuantitatif terhadap kemungkinan konflik susah dilakukan. Tetapi saya melihat seperti dalam pertandingan sepak bola. Bonek itu, pendukung Persebaya, marah kalau timnya kalah.," tambah Kombes Heru Setiawan.
Relatif tenang Jika melihat dari pengalaman pemilu legislatif yang lalu, sebenarnya suasana di Jawa Timur relatif tenang. Sementara dalam kampanye calon presiden kali ini, tampaknya tidak banyak massa yang turun ke jalan. Menurut pengamat politik dari Universitas Airlangga, Surabaya, Daniel Sparingga rakyat memang sudah mengambil jarak terhadap calon mereka, sehingga kedekatan emosional menjadi berkurang. "Yang terjadi sesungguhnya dalam observasi saya, mereka pada satu sisi mengambil jarak, dan di sisi lain untuk menjaga independensi dalam menentukan pilihannya," kata Sparingga. Masalahnya adalah bagaimana jika pilihan mereka kalah? Apakah warga Jawa Timur akan kembali berperilaku seperti bonek, seperti kekuatiran Kombes Heru Setiawan. Partisipasi LSM Sejumlah LSM mengatakan akan ikut memantau pelaksanaan pemilihan presiden Senin 5 Juli mendatang. Salah satunya adalah Lembaga Pengembangan Agama dan Masyarakat, LPAM, yang menegaskan bahwa sumber pertikaian bukanlah antar pemilih tetapi apa yang akan terjadi dalam penghitungan suara. Amiq dari LPAM menegaskan bahwa persoalan antara lain dalam upaya penggelembungan maupun pengurangan suara. LPAM adalah salah satu dari sekian banyak lembaga pemantau yang sudah siap untuk melihat apa yang terjadi hari Senin mendatang. Beberapa pengamat dari luar negeri pun sudah berdatangan, termasuk dari Anfrel, jaringan pemantau dari Asia dan Uni Eropa. "Pada hari pemilihan akan ada sekitar 196 pengamat Uni Eropa yang akan mengikuti jalannya pemilihan presiden, " kata Cornelis Koiijmans, salah seorang pemantau Uni Eropa di Surabaya. Jumlah pemantau Uni Eropa ini hampir sama seperti dengan jumlah pemilihan legislatif bulan April yang lalu. |
| ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||