|
 |
Jumat, 20 Juni, 2003, 11:27 GMT
Anak di tempat kerja berbahaya
|

Sampah dan bahan material bercampur jadi satu dan masih ada uap lem kayu |
Secara formal tidak ada buruh anak di perkebunan karena pengelola perkebunan tidak pernah mempekerjakan buruh anak di bawah umur 18 tahun.
Tapi beban kerja yang terlalu berat dan tekanan ekonomi mendorong orang-tua meminta bantuan keluarganya untuk ikut membantu pekerjaan mereka sebagai buruh harian lepas.
Ismi dan Agus adalah dua anak yang bekerja di perkebunan tebu Sei Semayang, Sumatera Utara, milik PTPN 2. Mereka bekerja di bawah terik matahari dengan resiko tersengat serangga atau terbacok parang, seperti yang pernah dialami Agus.
 Agus memotong tebu dan menggembala ternak | Pegiat buruh anak dari Yayasan Handal Mahardika di Medan, Nelson Sinaga, berpendapat sistem kerja di perkebunan harus diperbaiki untuk menghapuskan buruh anak. Namun Pihak PTPN 2 tidak bersedia memberikan keterangan sehubungan dengan kondisi perburuhan.
Sementara itu di industri sepatu Cibaduyut, Bandung, jumlah buruh anak semakin berkurang karena beberapa faktor, antara lain menurunnya bisnis sepatu dan kesadaran masyarakat yang makin meningkat, kata Abdul Hakim, Koordinator ILO-IPEC sektor alas kaki di Bandung.
Di Bandung, ILO-IPEC bekerja-sama dengan Yayasan Anak Sidikara membangun sanggar kreatifitas dan pendidikan anak sebagai tempat anak berkumpul, bermain, dan juga belajar.
 Rosadi main komputer di sanggar | Rosadi adalah salah seorang anak mantan buruh sepatu yang mendapat penghargaan UNICEF sebagai satu dari lima pemimpin anak berbakat.
Namun masih tetap saja terdapat buruh anak di industri sepatu Cibaduyut, seperti Ujang Saidi, yang diajak ayahnya membantu bekerja bikin sepatu sejak dua tahun lalu.
Dia praktis bekerja di lingkungan berbahaya dengan uap lem kayu dan sampah gerinda dan bahan sepatu bercampur jadi satu di ruangan kerja yang minim ventilasi.
|
|
|
|