|
Sikap dermawan warga Inggris
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Salah satu aspek dari kehidupan di Inggris yang membuat saya kagum adalah solidaritas terhadap sesama manusia, tak peduli
suku bangsa, golongan maupun agama.
Saya menjadi teringat lagi tentang hal ini dengan adanya gempa bumi di Sumatra Barat beberapa waktu yang lalu. Tak lama setelah gempa itu, tiga belas badan amal terkemuka di Inggris yang tergabung dalam Disaster Emergency Committee mengadakan seruan bersama untuk menggalang dana. Badan - badan yang bergabung dalam DEC adalah organisasi-organisasi terkemuka seperi Oxfam, Palang Merah Inggris, Save The Children, Christian Aid, dan Islamic Relief. Di surat kabar, radio dan televisi, DEC memasang iklan layanan masyarakat mengetuk hati publik Inggris agar menyisihkan uang semampunya untuk korban bencana di Asia Tenggara; tidak hanya di Sumatra, tetapi juga di Filipina dan Vietnam yang ketika itu terkena bencana angin topan dan bajir. Iklan radio dan televisi disuarakan oleh seorang selebriti Inggris bernama Myleene Klaas yang ibunya berasal dari Filipina, untuk menarik perhatian masyarakat seluas mungkin. Saya tidak tahu berapa banyak dana yang bisa digalang untuk korban bencana di Indonesia, Filipina dan Vietnam kali ini, karena DEC masih menerima sumbangan.
Ketika Aceh, Thailand dan Sri lanka dihantam tsunami pada tahun 2004, DEC berhasil menggalang dana sebesar 300 juta poundsterling dalam waktu dua bulan, atau 4,5 trilyun rupiah menurut kurs sekarang. Dalam waktu 48 jam saja, dana yang berhasil digalang berjumlah sekitar 500 milyar rupiah. Beberapa hari tsunami itu saya sedang berada dalam perjalanan udara ke Inggris. Di atas pesawat, pramugari meminta para penumpang untuk memberi sumbangan bagi para korban gempa. Kantung kertas yang dipakai untuk menampung sumbangan itu langsung penuh. Kebiasaan menggalang dana untuk proyek-proyek kemanusiaan sudah mengakar dalam di negara ini. Sebagai misal sejak tahun 1985 sebuah badan amal bernama Comic Relief menggalang dana untuk proyek-proyek pengentasan kemiskinan di Afrika dan di Inggris.
Pencetusnya adalah penulis skenario dan sutradara terkenal Richard Curtis, yang mungkin anda kenal lewat filem-filem seperti Notting Hill dan Four Weddings and a Funeral. Setiap tahun televisi BBC menyisihkan satu hari untuk menayangkan berbagai acara khusus yang diadakan Comic Relief, entah itu episode khusus dari sebuah acara televisi yang populer, atau penampilan ekslusif musisi-musisi kelas dunia. Setelah pemirsa televisi terhibur dengan berbagai tontonan, mereka diminta untuk membuka dompet bagi Comic Relief. Acara hiburan ini diselingi tayangan dari proyek-proyek yang berhasil dijalankan berkat sumbangan pemirsa. Yang lebih hebat lagi menurut saya, setiap sen uang yang disumbangkan kepada Comic Relief dibelanjakan untuk proyek-proyek bantuan. Semua dana untuk mengelola organisasi diperoleh dari sponsor atau bunga bank sebelum uang sumbangan dibelanjakan. Kadang-kadang kegiatan amal di Inggris membuat saya merasa malu. Mei lalu sebuah organisasi bernama Sumatran Orangutan Society mengadakan acara malam dana dengan menghadirkan penyanyi dan pelawak terkenal di Inggris. Rasanya malu dan kagum melihat orang asing lebih menghargai fauna Indonesia yang terancam kepunahan. Kemurahan hati dan solidaritas semacam ini bagi saya menunjukkan bahwa tali persaudaraan manusia di seluruh dunia masih kuat
, meski kadang-kadang keyakinan itu goyah melihat konflik yang masih terjadi di banyak negara. |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||