|
Veteran PD I tutup usia
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Pemakaman prajurit yang gugur di medan perang, belakangan sering terjadi di Inggris. Peningkatan operasi militer Inggris di
Afghanistan membuat jumlah korban juga bertambah.
Tapi pemakaman yang terjadi awal Agustus lalu lalu di kota kecil bernama Wells, di Inggris Barat Daya, lain daripada biasa. Prajurit yang dimakamkan bernama Harry Patch, umurnya sudah 111 tahun; dia adalah veteran perang Dunia Pertama terakhir di Inggris Raya. Harry Patch memegang senapan mesin dalam pertempuran yang terkenal di Passchendaele pada tahun 1917. Karena luka parah dia dipulangkan dari front dan tidakgugur di medan tempur. Peti mati Harry Patch dipangggul enam prajurit Inggris, dan masing-masing dua prajurit dari Jerman, Prancis dan Belgia. Dalam wasiatnya Pak Harry memang meminta agar peti matinya tidak hanya diusung tentara Inggris, tetapi juga negara-negara lain yang terlibat dalam Perang Dunia Pertama, yang dalam bahasa Inggris dikenal dengan The Great War... Perang Akbar dan the war to end all wars, perang yang mengakhiri semua peperangan. Sejarah kemudian membuktikan bahwa sebutan yang terakhir itu tidak benar. Peti mati Harry Patch memang diselimuti bendera kerajaan Inggris dan diangkut oleh serdadu, tapi upacara pemakaman itu sendiri tidak militeristik. Hymne yang diputar dalam upacara di gereja adalah Where have All The Flowers Gone? Sebuah lagu perdamaian tahun 1960an. Harry Patch sendiri baru pada akhir hayatnya bercerita tentang perang besar itu. Dia tidak suka perang, karena menurutnya nyawa satu orang saja sudah merupakan pengorbanan yang terlalu besar untuk sebuah peperangan. Apalagi 900,000 jiwa tentara Inggris yang gugur di perang Dunia Pertama. Kita semua adalah korban, katanya. Di hari yang sama dengan pemakaman Harry Patch, seorang prajurit bernama Joseph Murphy dimakamkan di Birmingham. Usianya baru 18 tahun, masih anak-anak. Dia terkena ledakan bom di Afghanistan. Afghanistan Afghanistan, Irak, Perang Dunia II, dan banyak peperangan lainnya menunjukkan bahwa Inggris tetap saja berperang untuk membela kepentingannya Debat yang sekarang ramai berlangsung adalah keterlibatan Inggris di propinsi Helmand, Afghanistan Selatan. Rentetan korban yang jatuh dalam beberapa minggu terakhir membuat publik bertanya-tanya, untuk apa anak-anak muda itu mati di Afghanistan. Jawaban pemerintah adalah demi kepentingan nasional Inggris. Kalau Taliban dan Al Qaeda tidak ditaklukkan, Inggris tidak akan aman dari terorisme. Tetapi pihak oposisi konservatif dan sejumlah jenderal aktif maupun pensiunan, marah pada pemerintah Gordon Brown. Mereka merasa, pemerintah mengirim tentara ke Afghanistan tanpa peralatan tempur yang memadai, Helikopter perang kurang, akibatnya tentara harus melewati jalan darat dan menjadi mangsa empuk ranjau darat Taliban. Mau perang tapi tak mau berkorban biaya. Kritik yang lebih mendasar datang dari para kolumnis dan masyarakat biasa. Mereka berpendapat perang di Afghanistan adalah perang sia-sia yang tak mungkin dimenangkan oleh Inggris tanpa perang total. Dan perang total tidak mungkin dilakukan oleh Inggris. Mereka berpendapat jalanan kota London tidak akan lebih aman dengan menyerang Afghanistan. Rupanya pesan dari Perang Dunia Pertama masih belum juga diresapi di negara ini. Seorang prajurit Inggris pada Perang Dunia Pertama bernama Wilfred Owen menulis sebuah puisi yang wajib dipelajari par siswa. Bait terakhirnya berbunyi, saya kutip 'the old lie - Dulce et Decorum est pro patria mori', adalah kebohongan lama bahwa adalah manis dan mulia mati bagi tanah air. |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||