BBCIndonesia.com
  • Bantuan
 
Diperbaharui pada: 18 Juni, 2009 - Published 09:48 GMT
 
Email kepada teman   Versi cetak
Mogok lagi, mogok lagi
 
London
Kereta bawah tanah mogok di London dan para pengguna transport umum tumpah ruah menunggu bis

Biasanya saya tidak terlalu menghiraukan sesama pejalan kaki dalam perjalanan menuju kantor maupun saat pulang dari kantor.

Baik ketika jalan kaki menuju stasiun kereta api, maupun dari stasiun menuju kantor pemandangan sudah menjadi rutin.

Semua orang bergegas ke tempat kerja dengan langkah cepat. Tapi hari Rabu dan Kamis lalu, radar perhatian saya terhadap sesama pejalan kaki lebih peka dari biasa.

Selama 2 hari itu, salah satu serikat pekerja kereta api bawah tanah di London mogok selama 48 jam. Akibatnya 3,5 juta penumpang yang setiap hari memanfaatkan sistem kereta api bawah tanah London, harus memutar otak dan berjalan ekstra jauh agar bisa sampai ke tempat kerja.

Walau mogok kereta bawah tanah bukanlah yang pertama kali dan sudah diumumkan beberapa hari sebelumnya, tetap saja orang London tidak siap sepenuhnya.

Bagi saya perjalanan ke kantor yang biasanya memakan waktu 50 menit, hari Rabu lalu berubah menjadi 2,5 jam.

London
Warga London makin banyak yang menyayuh sepeda ke kantor

Sebagai karyawan yang baik, saya berangkat satu setengah jam lebih awal naik bus, kemudian naik kereta api biasa yang tidak mogok menuju stasiun besar.

Di sana menurut edaran kantor, sudah ada bis karyawan yang akan mengantar kami. Ternyata setelah setengah jam menunggu, bus tak datang juga dan saya putuskan untuk jalan kaki.

Empat puluh lima menit kemudian saya tiba di kantor, yang berarti 20 menit terlambat.

Ditengah resesi

Trotoar yang biasanya ramai, menjadi padat sekali dengan pejalan kaki. Wanita kantoran berpakaian rapi mengenakan sepatu kets agar bisa melangkah lebih nyaman.

Pengendara sepeda juga jauh lebih banyak daripada biasa. Belum lagi 100 bus extra yang dikerahkan oleh pemerintah kota. Arus pekerja yang biasanya tersembunyi di jaringan kereta api bawah tanah, tumpah ruah di jalanan.

Hak untuk mogok sudah puluhan tahun menjadi bagian dari hubungan industrial di negara ini. Para pekerja biasanya juga menggunakan hak itu dengan bijak, karena bila mereka mogok, gaji tak akan dibayar. Prinsipnya adalah no work, no pay.

Yang membuat banyak warga di sini geram, adalah pemogokan berlangsung saat masyarakat sedang susah karena resesi.

Serikat Buruh yang bernama RMT ini menuntut kenaikan gaji sebesar 5% untuk 2 tahun pada saat harga barang secara umum sedang turun sementara sebagian perusahaan malah mengurangi gaji pegawai atau mengurangi jumlah pegawai.

Serikat buruh RMT juga mogok karena mereka tidak mau anggotanya di PHK secara paksa.

London
Bus ekstra tak mengatasi masalah saat kereta bawah tanah mogok

Masih berunding

Pemogokan di sektor yang vital seperti transportasi umum pada hakekatnya sudah tidak populer, apalagi pada saat negara sedang susah dan apabila tuntutan itu dianggap tidak fair atau berlebihan.

Beberapa minggu terakhir, kegusaran masyarakat Inggris dilampiaskan kepada para anggota parlemen yang dengan seenaknya mengklaim tunjangan bernilai ratusan juta rupiah, untuk membayar cicilan rumah ke dua atau ke tiga, dengan memanfaatkan aturan longgar yang mereka buat sendiri.

Sebelum itu sasaran kemarahan adalah para bankir yang mengeruk gaji besar-besaran sementara bank yang mereka kelola nyaris bangkrut dan harus diselamatkan dengan dana pembayar pajak.

Minggu ini publik London mempunyai satu lagi sasaran yaitu, pemimpin RMT, Bob Crow, yang dianggap mendalangi kesengsaraan mereka.

Para penggemar sepakbola yang harus bersusah payah menuju Stadion Wembley untuk menonton Inggris melawan Andorra, memasang poster mencaci Bob Crow. Bahkan ada website yang dibuat agar orang bisa meninju dia, paling tidak di komputer.

Setelah mogok 48 jam, pelayanan kereta api sudah normal kembali tetapi pihak manajemen dan RMT belum juga mencapai titik temu. Mereka akan bertemu lagi dalam arbitrase minggu depan.

Kalau kesepakatan tidak tercapai juga, kekacauan angkutan bisa terulang lagi.

 
 
Berita utama saat ini
 
 
Email kepada teman   Versi cetak
 
  Bantuan | Hubungi kami | Tentang kami | Profil staf | Pasokan Berita RSS
 
BBC Copyright Logo ^^ Kembali ke atas
 
  Berita Dunia | Berita Indonesia | Olahraga | Laporan Mendalam | Ungkapan Pendapat | Surat dari London
Bahasa Inggris | Berita Foto | Cuaca
 
  BBC News >> | BBC Sport >> | BBC Weather >> | BBC World Service >> | BBC Languages >>
 
  Bantuan | Privacy