Gelombang pengungsian mengalir dari kawasan konflik Rusia-Georgia. Badan Pengungsi PBB, UNHCR mengatakan sangat prihatin atas
penderitaan ribuan warga sipil yang terjebak dalam pertempuran di dan sekitar Ossetia Selatan.
Ribuan warga sipil meninggalkan Ossetia Selatan ke berbagai tempat di Georgia, sedangkan yang lain ke Ossetia Utara di Rusia,
kata UNHCR.
Sebagian warga sipil mengungsi dengan alat angkut darurat. Komisaris UNHCR Antonio Guterres mengimbau warga sipil diberi kesempatan
untuk mengungsi ke kawasan-kawasan yang aman.
Wanita dan orang tua ikut mengungsi. UNHCR mendesak pasukan Georgia dan Rusia agar menerapkan kesepakatan untuk mengizinkan
pengungsi dari Ossetia Selatan menyelamatkan diri di sepanjang Ngarai Didi Liakhvi.
Jumlah warga yang mengungsi dari Ossetia Selatan ditaksir berkisar antara 40.000 hingga 50.000 dari keseluruhan warga di sana
yang diperkirakan 70.000 jiwa.
Sebagian pengungsi terpaksa menyelamatkan diri dengan mobil tua. PBB mengirim tim ke kota kecil Georgia, Gori, yang digempur
pesawat-pesawat Rusia hari Sabtu untuk menaksir keperluan di sana dan berniat melanjutkan konvoi bantuan secepat mungkin.
Tidak semua pengungsi langsung memperoleh tempat berteduh. Jurubicara UNHCR di Georgia mengatakan, sekitar 46,000 mengungsi
dari tempat tinggal mereka di Gori. Banyak di antara mereka mencari tempat perlindungan.
Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin mengunjungi sebagian pengungsi. UNHCR mengatakan lembaga internasional itu juga siap
membantu Rusia menanggulangi masalah pengungsi yang tiba dari Ossetia Selatan.







