BBCIndonesia.com
  • Bantuan
 
Diperbaharui pada: 02 Juli, 2009 - Published 20:12 GMT
 
Email kepada teman   Versi cetak
Kalla kritik saran satu putaran
 
Pilpres
Debat TV belum memperlihatkan perbedaan antar calon
Rangkaian debat calon presiden dan wakil presiden di TV untuk melengkapi kampanye pemilihan presiden yang digelar oleh KPU sudah berakhir.

Meski sesi debat terakhir dianggap mengalami kemajuan karena para calon presiden lebih langsung mengkritik saingan, secara umum debat dinilai tidak berhasil menggambarkan perbedaan visi antar calon.

Dalam debat terakhir Rabu malam, Jusuf Kalla antara lain mengkritik Susilo Bambang Yudhoyono yang dalam iklannya mendorong agar pemilihan presiden cukup satu putaran saja.

"Maaf Pak SBY, dorongan bapak, iklan bapak agar pilpres satu putaran dengan alasan Rp 4 triliun itu artinya demokrasi dengan pandangan uang," kata Jusuf Kalla saat debat.

Usai debat --seperti dilaporkan wartawan BBC Dewi Safitri-- Jusuf Kalla dan Susilo Bambang Yudhoyono mengaku cukup puas dengan jalannya perdebatan, walau Megawati Soekarno Putri mengharapkan perbaikan di masa depan.

"Saya melihat bahwa untuk menerangkan waktunya terlalu sempit," katanya kepada para wartawan.

Debat penutup itu sendiri, menurut KPU, ditonton sekitar 80 juta pemirsa di seluruh Indonesia.

Kurang siap

Bagaimanapun dampak dari rangkaian debat yang sudah digelar selama ini terhadap pemilih tampaknya tidak banyak.

 Dari segi substansi, para calon tidak kemana-mana juga karena mau ngomong apa.
 
Hadar Gumay
Cetro

"Cuma mengungkapkan visi dan misinya saja, tapi tidak kelihatan berdebatnya," tutur seorang pemirsa.

Sedangkan pemirsa lain mengatakan kalau perdebatan yang digelar di TV itu tidak mempengaruhi pilihannya.

"Dari kharismanya sendiri sudah kelihatan, jadi acara debat ini hanya untuk meyakinkan saja."

Sementara itu, Direktur Lembaga Pengkajian Persoalan Pemilu atau Cetro, Hadar Gumay mengatakan jalannya debat yang tidak menggigit disebabkan berbagai faktor.

Selain format acara yang kaku dan waktu terlalu singkat, para calon juga dianggap kurang siap.

"Dari segi substansi, para calon tidak kemana-mana juga karena mau ngomong apa. Jadi berputar lagi di situ."

Selain itu, tambah Hadar, masih ada semacam cara pandang yang membuat para calon masih belum merasa bebas dalam mengungkapkan pendapatnya.

"Mereka mungkin terkungkung dalam satu cara pandang bahwa menunjukkan secara agresif di depan umum bahwa program saya lebih baik dari lawan masih dilihat sebagai suatu hal yang negatif," kata Hadar Gumay.

Terikat UU

KPU mengaku masih banyak kekurangan dalam pengaturan acara debat di TV itu, yang merupakan pertama kalinya digelar di Indonesia.

KPU
KPU dibatas oleh UU dalam mengatur debat capres di TV

Namun KPU terikat oleh Undang-undang sehingga sulit untuk mengembangkan format menjadi debat antara calon presiden yang sesungguhnya.

"Misalnya head to head, Mega versus SBY, SBY versus JK. Itu kan bisa lebih hangat, tapi UU yang membatasi," tutur anggota KPU, Gusti Putu Artha.

Meski banyak kritik muncul, program debat antar calon presiden dan wakil presiden ini tampaknya cukup diminati masyarakat.

Survey lembaga pemeringkat media, AGB Nielsen menyebutkan pemirsa TV terkait berita pilpres naik hampir 30% dalam 2 bulan terakhir.

 
 
Berita utama saat ini
 
 
Email kepada teman   Versi cetak
 
  Bantuan | Hubungi kami | Tentang kami | Profil staf | Pasokan Berita RSS
 
BBC Copyright Logo ^^ Kembali ke atas
 
  Berita Dunia | Berita Indonesia | Olahraga | Laporan Mendalam | Ungkapan Pendapat | Surat dari London
Bahasa Inggris | Berita Foto | Cuaca
 
  BBC News >> | BBC Sport >> | BBC Weather >> | BBC World Service >> | BBC Languages >>
 
  Bantuan | Privacy