BBCIndonesia.com
  • Bantuan
 
Diperbaharui pada: 25 Desember, 2008 - Published 12:56 GMT
 
Email kepada teman   Versi cetak
Tahanan di Afsel lakukan yoga
 
Ansuya Khoosal
Narapidana mengaku lebih santai setelah yoga
Tahanan di penjara Groenpunt Maximum Security di propinsi Free State adalah para pelaku kejahatan paling kejam di Afrika Selatan.

Mereka memperkosa, membunuh, menyelundupkan obat terlarang atau melecehkan anak.

Kebanyakan dari mereka positif terkena virus HIV dan diperkirakan akan meninggal di penjara.

Di dalam penjara luapan kemarahan mereka dan kekerasan adalah peristiwa biasa.

Namun satu program baru berisi pelajaran yoga membantu para tahanan menemukan cara menenangkan diri dan bersikap lebih positif terhadap kehidupan mereka, meskipun mereka tidak akan pernah bebas.

Senyuman jujur

Dari lantai ring tinju yang berkarat Ansuya Khoosal mengajar para tahanan serangakaian gerakan dan posisi yoga ditambah latihan pernapasan.

"Tarik napas... Dan keluarkan," ujarnya berkali-kali.

Mata para tahanan terpejam, mendengar suara Ansuya yang tenang.

Mereka tampak dalam keadaan damai.

"Saya tidak melihat senyuman!" ujar Ansuya, dan senyuman lebar yang jujur pun bertebaran di wajah para tahanan.

Mereka berjejer dengan mengenakan seragam penjara berwarna oranye, tangan di atas untuk gerakan pelemasan otot.

Sejumlah tahanan melakukan latihan itu dengan serius, sebagian lagi memandangnya sebagai gurauan, tetapi jelas terlihat latihan yoga ini populer di kalangan tahanan.

Ini adalah hari terakhir program tujuh hari mengajari para tahanan posisi dasar yoga, juga latihan pernapasan yang diciptakan oleh pakar yoga Sri Sri Ravi Shankar.

Organisasi yang menyediakan pengajaran ini, Art of Living, mengatakan pihaknya berharap para narapidana akan mengingat gerakan yang diajarkan dan berlatih sendiri di sel masing-masing.

Kelompok ini tidak bisa mengadakan latihan tiap minggu, tetapi mereka menemukan narapidana yang memang serius dengan yoga dan mendorong mereka untuk terus berlatih.

Kehidupan di penjara

Maxwell Buthelezi, 24, menjalani hukuman penjara seumur hidup.

Dia mengaku bermain dengan kelompok yang salah saat di universitas.

Maxwell Buthelezi
Narapidana seumur hidup kasus pembunuhan

Disaat mahasiswa lain belajar, dia dan teman-temannya merampok pengendara kendaraan dengan menggunakan seragam polisi palsu.

Dia pun semakin terlibat jauh dalam kehidupan gang.

Hingga satu hari, dia dan kelompoknya merampok kapal kargo yang diketahui membawa obat terlarang.

Tetapi polisi sudah menanti kelompok ini.

Mereka curiga salah satu anggota kelompok itu memberi tahu polisi, disaat terjadi tembak menembak dengan polisi anggota yang dicurigai itu pun dibunuh dengan keji.

"Keluarga saya sangat malu dengan saya," ujarnya.

Dia baru menjalani 2 tahun dari hukuman minimum 20 tahun.

Kartu identitas penjaranya ditandai bahwa dia dikenai hukuman seumur hidup dan bisa dibebaskan di waktu yang diputuskan oleh Departemen Pemasyarakatan.

"Program ini sangat membantu saya mengatasi kemarahan saya," ujarnya.

"Beberapa hari lalu saya sedang berbicara di telpon dan seseorang mengganggu saya. Biasanya saya langsung lawan dia, tetapi saya menahan diri saat itu."

"Saya berkata kepadanya: "Dengar apa yang kamu inginkan dari saya?"

"Malam itu saya merasa gembira, karena saya tahu saya berhasil menghadapi situasi itu dengan benar."

Pesimis

Khoosal mengatakan melihat perubahan di kalangan para tahanan dalam tujuh hari sejak pertama kali bertemu.

"Waktu kami tiba pertama kali mereka sangat curiga."

Anita Hanekom
Kepala dinas sosial pun tadinya tidak yakin berhasil

"Mereka pikir ini hanya untuk orang India, dan meneriaki kami, tetapi akhirnya saya melihat mereka tidak melakukan program ini hanya untuk mendapat sertifikatnya saja."

Dia mengatakan teknik yoga yang diajarkan bisa mengendalikan emosi.

"Ketika kita marah, kita bernapas dalam cara tertentu dan kalau kita sedih napas kita juga berbeda.

"Jika anda bisa mengendalikan pernapasan, artinya anda bisa mengendalikan emosi."

Bukan hanya para tahanan yang tadinya pesimis dengan program ini.

"Ketika pertama kali mendengar saya berpikir: 'Bagaimana itu bisa membantu?'" ujar Anita Henekom kepala Layanan Sosial di penjara itu.

"Tetapi saya sudah menyaksikan teknik itu memang bermanfaat."

Sekarang Departemen Lembaga Pemasyarakatan yang menjalankan penjara di Afrika Selatan berniat menerapkan program ini di penjara lain.

Program ini berhasil di negara lain.

Namun sistem penjara Afrika Selatan masih tetap merupakan dunia yang brutal dan menakutkan.

Banyak tahanan yang ikut gang untuk melindungi diri, dan pengaruh gang bisa sampai keluar penjara yang dipenuhi dengan kejahatan keji.

"Kami hanya berharap mereka membawa teknik ini saat mereka bebas nanti," ujar Khoosal.

 
 
Berita utama saat ini
 
 
Email kepada teman   Versi cetak
 
  Bantuan | Hubungi kami | Tentang kami | Profil staf | Pasokan Berita RSS
 
BBC Copyright Logo ^^ Kembali ke atas
 
  Berita Dunia | Berita Indonesia | Olahraga | Laporan Mendalam | Ungkapan Pendapat | Surat dari London
Bahasa Inggris | Berita Foto | Cuaca
 
  BBC News >> | BBC Sport >> | BBC Weather >> | BBC World Service >> | BBC Languages >>
 
  Bantuan | Privacy