|
Diskusi UMKM di BBC Siaran Indonesia
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Diskusi yang membahas peluang dan tantangan usaha mikro dan kecil digelar awal November di studio BBC Siaran Indonesia di
Jakarta.
Sebagai pembicara adalah Bambang Ismawan yang menjabat Sekjen Gema PKM, sebuah badan yang dibentuk pemerintah Indonesia untuk membantu pengembangan usaha mikro.
Juga hadir Palgunadi Setiawan, salah seorang pendiri Yayasan Dharma Bakti Para Sahabat, yang meniru model Gramin Bank milik Mohamad Yunus, peraih Nobel. Dan Bambang Soelaksono, seorang peneliti senior Yayasan Smeru, yang mengamati perekonomian rakyat. Adapun moderator adalah wartawan BBC Liston Siregar. Dalam diskusi itu, Bambang Ismawan menjelaskan bahwa Gema PKM bukan melakukan pembinaan sendiri tapi mendorong lembaga pelatihan yang sudah ada. "Sedangkan dana yang tersalur dalam keuangan mikro amat susah dikumpulkan, namun diperkirakan nilainya mencapai sekitar lebih Rp. 100 trilyun sudah disalurkan," kata Bambang Ismawan. Menurut Palgunadi Setiawan, adanya Gema PKM memang amat membantu dalam membina jaringan, tapi dalam pekerjaan sehari-hari tidak selalu membantu.
Tapi pertanyaannya adalah apakah memang penyaluran untuk kredit mikro yang diperkirakan sudah mencapai Rp. 100 trilyun mencapai sasaran? Bambang Soelaksono dari Yayasan Smeru mengatakan bahwa memang ada pertumbuhan dalam keuangan mikro, namun banyak usaha mikro yang belum dicapai oleh badan keuangan formal. "Masih terkendala dalam mencari sumber dana. Yang ada itu masih didukung oleh keuangan yang bersifat pribadi." "Padahal kalau mau mengembangkan keuangan mikro yang berkelanjutan harus menggunakan dana dari masyarakat dan kemudian disalurkan kembali kepada masyarakat," tambah Bambang Soelaksono. Bambang Ismawan dari Gema PKM pada prinsipnya sependapat forum Gema PKM belum optimal, dan yang paling utama untuk dicapai adalah mengembangkan cara pemikiran baru. Menurut Bambang Ismawan, keuangan mikro itu harus dilihat dari supply side dan demand side. Pada tahun 2008 diperkirakan terkumpul lebih dari Rp. 1.500 trilyun dari pihak ketiga di lembaga perbankan. "Perjuangan dari Gema PKM adalah agar ada regulasi pemerintah agar 5% saja dari dana itu ditujukan untuk kelompok miskin," kata Bambang Ismawan. "Masalahnya adalah bagaimana membangun saluran dari lembaga perbankan ke usaha-usaha mikro," tambahnya.
Dan Palgunadi Setiawan mengatakan bahwa mereka masih menghadapi masalah dalam mengumpulkan dana untuk disalurkan ke nasabah mereka, yaitu para ibu yang menjalankan usaha mikro. "Waktu puncak dari penyaluran kami mencapai Rp. 120 milyar, sebanyak Rp. 30 milyar itumerupakan tabungan dari ibu-ibu nasabah kami. Yang Rp. 40 milyar diperoleh dari bank, tapi kami bisa dapat karena salah satu dari teman kami berharga sedemikian, jadi itu dengan garansi peribadinya," kata Palgunadi. "Kami beraharap bisa menggunakan uang masyarakat yang lebih besar, tapi di lapangan sering sekali kami mengahdapi hal-hal yang tidak boleh," Dan Bambang Ismawan menegaskan itulah salah satu masalah utama karena hanya lembaga-lembaga dengan status bank untuk memobilisasi dana. Koperasi juga diperkenankan untuk memobilisasi dana tapi terbatas untuk anggotanya. "Tapi ada lembaga-lembaga keuangan mikro yang berhasil di negara-negara lain yang memang fokus pada usaha mikro. Dan di Indonesia tidak ada peraturannya." "Ini masalah cara berpikir, sesuatu yang sukses secara fungsional tidak usah harus ditransfer menjadi lembaga formal yang lain," kata Bambang Ismawan. Dan yayasan milik Palgunadi Setiawan kini sudah harus diganti menjadi bank. "Menari dalam peraturan yang ada saat ini menghabiskan energi," kata Palgunadi Setiawan. |
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||