|
Bank umum di UMKM
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Kredit Usaha Rakyat atau KUR ditujukan untuk pengusaha mikro yang belum pernah mendapat kredit dari lembaga keuangan manapun.
Dan Bank Rakyat Indonesia, BRI, merupakan salah satu bank yang ditunjuk untuk menyalurkan KUR. Di Unit BRI Simpang Pos, Medan, terdapat 300 nasabah dengan nilai kredit maksimal Rp. 5 juta, sedangkan untuk nilai yang lebih besar dilayani oleh tingkat cabang maupun pembantu. Kepala Unit BRI Simpang Pos, Yayat Hidayat, mengatakan proses untuk mendapatkan KUR relatif amat mudah, yaitu foto copy KTP, foto diri, dan legalitas usaha. "Penjual-penjual bakso, mie kan kebanyakan orang rantau dan untuk berhubungan dengan bank itu sangat sulit karena mereka tidak punya jaminan," kata Yayat Hidayat. KUR memang tidak mewajibkan jaminan, namun jika ada surat kepemilikan seperti BPKB biasanya diminta juga oleh BRI. "Lebih untuk ikatan moral saja. Kalaupun memang tidak ada, ya tidak masalah karena memang persyaratan KUR tidak perlu jaminan," tambahnya. Dengan bantuan awal itu, maka Yayat berharap kelak pengusaha mikro itu akan berkembang dan menjadi nasabah tetap BRI. Kredit mikro tumbuh
Berdasarkan penelitian Yayasan Smeru, penyaluran kredit mikro lewat unit-unit BRI --yang berjumlah sekitar 4200 unit di seluruh Indonesia-- berkembang sekitar 38,5% untuk periode 2001-2007. Dengan total dana pinjaman sekitar Rp. 32 trilyun dengan jumlah peminjam 3.500.000, yang berarti rata-rata nilai pinjaman sekitar Rp. 9,3 juta. Akan tetapi Bambang Soelaksono dari Yayasan Smeru berpendapat bahwa penerima kredit BRI sebenarnya relatif tidak berkembang karena perkembangan peminjam pada Tahun 2001-2007 hanya 4,4% saja. Angka penyaluran kredit mikro dari Bank Perkreditan Rakyat, BPR, juga tak berkembang sejalan dengan jumlah pinjaman. Selama 6 tahun, jumlah pinjaman kredit mikro dari BPR --yang seluruhnya mencapai sekitar 2.100 unit di Indonesia-- naik sekitar 55%, tapi peningkatan jumlah peminjam hanya 7,6%. "Jadi kalau dilihat dari sini berarti keuangan mikro itu belum tersentuh oleh lembaga keuangan formal karena yang meminjam itu-itu saja," kata Bambang Soelaksono kepada BBC Siaran Indonesia. Danamon SP
BRI sebenarnya sudah lama terjun ke dalam UMKM, namun belakangan bank umum besar juga mulai melirik ke UMKM, seperti Danamon SP atau Danamon Simpan Pinjam. Keputusan untuk masuk ke UMKM ini diputuskan oleh Direksi Danamon pada Tahun 2003 sebagai bagian dari prioritas strategi. Salah satu alasannya adalah bahwa di luar negeri terlihat bahwa bank yang juga beregerak di kredit mikro dan kecil mempunyai ketahanan yang lebih dibanding bank lainnya. "Salah satu contoh mendasar adalah BRI yang sangat tangguh menghadapi krisis ekonomi pada Tahun 1998 dan 1999," kata Ali Yong, Direktur Self Employment Managemen, Bank Danamon, yang mengurusi kredit UMKM. Dan berbeda dengan pegawai bank-bank besar lainnya di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, yang mengenakan pakaian rapi, para pegawai Danamon SP jauh lebih santai dan beberapa diantaranya mengenakan kaus oblong. "Mereka memang harus bertemu langsung dengan nasabah di pasar-pasar dan di kios-kios jalanan, jadi bukan duduk di meja saja," kata Abrham Sihaloho, Manajer Senior Hubungan Masyarakat Danamon. Potensi besar
Tentu saja Danamon SP juga melihat keuntungan yang ditawarkan dari penyaluran kredit mikro, kecil, dan menengah. Walau sudah membatasi tidak menyalurkan kredit untuk sektor pertanian, Danamon SP melihat potensinya tetap besar, dengan potensi sekitar 2,7 juta unit atau individu. "Mereka itu adalah kios-kios atau yang jualan di pasar, bengkel kecil, dan sekarang ini yang jualan voucher. Dan kami terfokus pada kelompok ini," kata Ali Yong. Dari sekitar 2,7 juta usaha mikro dan kecil itu, ternyata baru sekitar 30% saja yang sudah mempunyai akses ke lembaga keuangan formal sedangkan sisanya masih mengandalkan pinjaman tidak formal, seperti keluarga maupun rentenir. "Kalau kita lihat dari populasinya sangat menarik, dan itulah yang menggerakkan Danamon berniat masuk ke sana," tambahnya. Namun Danamon hanya memusatkan pemberian kredit antara Rp. 5 juta hingga Rp. 500 juta. Dan masih ada potensi besar untuk kredit yang lebih kecil, dengan kredit Rp. 500.000,- hingga Rp 5 juta, karena diperkirakan terdapat 24 juta inidvidu yang siap meminjam kredit. "Namun sekarang yang menjadi target kami adalah kredit yang 5 juta ke atas, tapi nanti bisa saja masuk ke lapisan bawah." Syariah Mandiri
Bank Syariah Mandiri menawarkan 2 produk bagi pengsusaha kecil dan mikro dengan prinsip tanpa bunga. Yang pertama adalah sistem marjin untuk membeli peralatan yang tidak akan terpengaruh oleh fluktuasi bunga. Misalnya adalah pembelian traktor dan dikenakan marjin kepada para peminjamnya. Misalnya harga traktor Rp. 100 juta dan Bank Syariah Mandiri menerapkan marjin Rp. 10 juta ketika memberikan traktor itu kepada calon peminjam. "Jadi basisnya adalah jual beli antara bank dan nasabah, bukan bunga," kata Agung Prakosa, Kepala Cabang Bank Syariah Mandiri Mataram. Sistem kedua adalah berdasarkan bagi hasil berdasarkan keuntungan yang disepakati antara peminjam dengan bank. "Kalau masih perlu modal Rp. 60 juta maka kami berikan dan nanti disepakati hasil pembagian itu dibicarakan dari awal," tambah Agung Prakosa. Dan sistem syariah ini cukup berkembang. Perkembangan asset Bank Mandiri pada Tahun 2002 hanya Rp. 900 milyar dan pada Bulan Juli 2008 assetnya sudah mencapai Rp. 16 trilyun lebih. "Itu kan menunjukkan bahwa sistem ini sebenarnya sangat diterima oleh masyarakat," tambah Agung Prakosa. |
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||