|
Melihat usaha mikro, kecil, dan menengah
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Pembersih ikan di kerupuk ikan Cang Rebong di Langsa, milik Choirul Azman, bisa mendapat sekitar Rp. 30.000,- hingga Rp. 50.000 setiap harinya.
Kerupuk ikan Cang Rebong dipasarkan ke Langsa, Banda Aceh, dan juga ke Medan. Dan Choirul Azman ingin memiliki kapal penangkap ikan sendiri.
Kerupuk Mustika ubi milik Mariam di Langsa dipasarkan dengan mobil, namun Mariam merencanakan pemasaran dengan sepeda motor untuk menekan ongkos.
Junaedi, pengusaha tas di Medan mendapat uang panjar setengah dari nilai pesanan, yang digunakan untuk modal kerja dan keperluan sehari-hari.
Baju sutra produksi Y&Y, milik Merry Fersy di Medan dieksport ke Malaysia dengan harga 700 Ringgit Malaysia atau Rp. 2,5 juta per potong.
Karjo di Jakarta masih belum punya modal untuk punya kios dan masih dikejar-kejar Petugas Keamanan dan Ketertiban.
Dengan sepedanya, Sulasmi menjual sarapan dan kopi kepada supir dan pegawai di Bundaran Senayan, Jakarta Selatan.
Kacang buatan Kamariah di Desa Gegutu Langsar, Lombok Barat, dijual di warung maupun sekolah disekitarnya dan menampung 6 tenaga kerja.
Tarjo Wiyono dapat pesanan gitar dari Malaysia tapi belum berani meminjam lebih banyak untuk tambahan tenaga kerja dan bahan baku.
Parang dan pisau buatan Mustar, salah seorang pandai besi di Desa Gegutu Reban, Lombok. Dia tak punya modal untuk memperbanyak parang dan pisau walau ada permintaan. |
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||