|
Ada jaminan, ada kredit
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Jaminan untuk mendapatkan kredit modal merupakan salah satu hambatan bagi perkembangan usaha mikro dan kecil di Indonesia.
Untuk pengusaha menengah, mungkin masalah mendapatkan kredit modal tidak ada lagi karena asset mereka yang sudah bisa diagunkan kepada pemberi kredit. Banyak dari pengusaha mikro dan kecil yang sebenarnya yakin bisa memperluas pasar namun terhambat keterbatasan modal. Namun mereka terbentur pada jaminan atau agunan karena tidak sedikit pengusaha mikro dan kecil yang masih mengontrak rumah. Asmah, pengusaha keripik nangka di Perumahan Palem Emas, Medan, mengaku sudah mendapat tawaran dari jaringan supermarket Carrefour untuk memasok keripik nangka ke seluruh toko Carrefour di Indonesia, jadi bukan hanya di Medan saja. "Saya bawa surat kontraknya sampai ke 5 bank, tapi semuanya menolak memberi kredit," kata Asmah yang masih mengontrak rumah dan menjadikan garasinya untuk mengupas dan menggoreng nangka. Jaminan itu mutlak
Di Desa Dawung Wetan, Solo, pasangan pengusaha wingko babat Christine dan Rudi bisa mendapat kredit namun amat terbatas karena hanya sepeda motor mereka saja yang bisa dijadikan agunan. Rumah tempat tinggal mereka --yang sebagian digunakan untuk dapur besar guna memasak wingko babat-- masih kontrakan sehingga tak bisa diagunkan untuk meminjam kredit modal. Christine dan Rudi pernah meminjam sekitar Rp. 4 juta untuk membeli 1 kompor gas dengan bunga 3% dari koperasi, dan mereka dengan tertib membayar angsuran bulanan. Christine ingin meningkatkan produksi dengan modernisasi kompor minyak tanah menjadi kompor gas, dan yakin wingko babatnya pasti laki. "Kalau menurut saya paling nggak bisa tambah kompoer gas sekitar 4 lagi, juga mixernya. Total modal mungkin sekitar 25 juta," kata Christine. Untuk pinjaman Rp. 25 juta itu tak bisa lagi menggunakan agunan Bukti Kepemilikan Kenderaan Bermotor, BPKB, karena nilai sepeda motor tidak cukup. Dan kedisplinan dalam membayar angsuran selama ini masih belum meyakinkan koperasi peminjam untuk memberi kredit tambahan. "Kita belajar dari pengalaman. Beberapa yang pinjam itu macet biarpun usaha mereka jalan. Ada jaminan saja masih ada kemungkinan macet," kata Herry dari Koperasi Sari Mulyo yang memberi pinjaman awal kepada Christine dan Rudi. Modal kerja
Sejumlah pengusaha mikro bahkan memerlukan kredit untuk modal kerja sehari-hari, seperti Junaedi pengusaha tas kulit UD Juli di Medan. Ketika BBC Siaran Indonesia berkunjung ke rukonya di Pusat Industri Kecil, PIK Medan, dia sedang mengerjakan pesanan 500 tas lap top dari pesanan DPR RI. Junaedi memerlukan modal karena sistemnya adalah dia mendapat bayaran setengah dari nilai total pesanan di depan, sedangkan sisanya dibayar setelah pekerjaan selesai. Biasanya uang muka yang diberikan pemesan tidak cukup untuk menjadi modal kerja dan biaya kehidupan sehari-hari. "Jadi kami ke rentenir saja, cepat prosesnya karena tak sampai setengah jam sudah langsung cair. Kalau ke bank sampai kiamatpun mungkin tak dapat," katanya sinis. Cepat tapi dengan bunga tinggi. Kalau bank biasanya menawarkan kredit modal dengan bunga sekitar 1% hingga 2% per bulan, maka para rentenir --kata Junaedi-- menerapkan bunga sampai 20% sebulan. |
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||