BBCIndonesia.com
  • Bantuan
 
Diperbaharui pada: 01 Desember, 2008 - Published 14:36 GMT
 
Email kepada teman   Versi cetak
Sekilas UMKM di Indonesia
 
Industri tas
Jumlah usaha mikro mencapai 95% dari total usaha di Indonesia
Jika dihitung dari jumlahnya, maka usaha mikro, kecil dan menengah atau UMKM adalah mayoritas usaha di Indonesia.

Diperkirakan terdapat hampir 50 juta unit UMKM di Indonesia atau sekitar 99% lebih dari total unit usaha yang ada.

Dari seluruh UMKM itu, menurut Kementrian Megara Koperasi dan UKM, maka yang paling banyak adalah usaha mikro dengan jumlah 47.702.310 atau sekitar 95% lebih.

Sedangkan usaha kecil sebanyak lebih 2 juta unit usaha, dan usaha menengah sekitar 120.000 unit. Adapun yang tergolong sebagai usaha besar hanya 4.527 unit atau hanya sekitar 0,01% saja.

Artinya usaha mikro dan kecil merupakan mayoritas dalam sektor usaha di Indonesia, namun sepertinya fasilitas yang tersedia bagi mereka tidaklanh banyak.

Padahal usaha mikro, khususnya, memerlukan banyak bantuan untuk bisa berkembang antara lain pembinaan manajemen, pemasaran, maupun kredit modal.

Dan bagi pengusaha mikro dan kecil yang sudah berhasil mengelola manajemen dan pemasaran yang baik, masih sulit untuk berkembang karena kesulitan modal.

Empat kriteria

 ...banyak kegiatan yang seolah-olah menyalurkan keuangan mikro tapi sebenarnya belum
 
Bambang Ismawan

Ada beberapa definisi usaha mikro, kecil, dan menengah di Indonesia yang didasarkan pada jumlah tenaga kerja, modal, maupun nilai penjualannya.

Berdasarkan UU Industri Kecil No. 9 tahun 1995, maka industri kecil adalah aktifitas ekonomi yang dilakukan individu, rumah tangga, atau unit usaha dengan modal maksimal Rp. 200 juta dan penjualan per tahun di bawah Rp. 1 milyar.

Sedangkan BPS menurunkan kategori sendiri, antara lain berdasarkan jumlah tenaga kerjanya.

Usaha mikro memiliki 1 hingga 4 pekerja, lantas usaha kecil antara 5 hingga 19 pekerja, sedangkan usaha menengah dengan 20 sampai 99 pekerja. Dan di atas 100 pekerja sudah tergolong dengan usaha besar.

Dan untuk mengembangkan usaha mikro ini pada Tahun 2000 dibentuk Gerakan Bersama Pengembangan Keuangan Mikro atau Gema PKM.

Sebagai Sekjen ditunjuk Bambang Ismawan, yang sudah berpengalaman dalam membantu usaha mikro lewat organisasi non pemerintah, Bina Swadaya.

Menurut Bambang Ismawan ada 4 kriteria yang mengacu pada gerakan pengembangan kredit mikro internasional.

"Yang pertama harus mencapai yang paling miskin. Yang kedua memberdayakan kelompok perempuan, sedang yang ketiga adalah membangun lembaga keuangan yang berkelanjutan," kata Bambang Ismawan kepada wartawan BBC Liston Siregar.

Sedangkan kriteria keempat adalah dampak kegiatan pemberian kredit mikro itu harus bisa terukur.

"Menurut saya di Indonesia hal itu belum tersosialisasikan dengan baik sehingga banyak kegiatan yang seolah-olah menyalurkan keuangan mikro tapi sebenarnya belum," tambahnya.

Sudah lama
PIK Medan
Salah satu Pusat Industri Kecil terletak di Medan

Yayasan Semeru, yang melakukan sejumlah penelitian tentang kredit mikro, mencatat keuangan mikro di Indonesia sudah ada sejak akhir Abad ke 19, dengan berdirinya Bank Kredit Rakya dan Lumbung Desa.

Pada tahun 1905, Bank Kredit Rakyat ditingkatkan menjadi Bank Desa dengan cakupan pelayanan yang diperlua, meliputi kegiatan usaha di luar bidang pertanian.

Pemerintah Belanda kemudian menerbitkan Staatblad 1929 No. 137 tentang pendirian Badan Kredit Desa untuk menangani kredit pedesaan di Jawa dan Bali.

Setelah kemerdekaan, berkembanglah bank-bank pasar serta lembaga-lembaga keuangan mikro yang antara lain dibentuk oleh pemerintah daerah.

Dan saat ini berbagai lembaga keuangan pada prinsipnya siap menawarkan kredit kepada usaha mikro, kecil dan menengah.

Ada Bank Perkreditan Rakyat atau BPR, juga koperasi simpan pinjam, dan beberapa bank umum mulai terjun juga kredit kecil, antara lain Bank Danamon dan Bank Mandiri.

Belum menyebar

 Data pinjaman memang meningkat dua kali lipat, tapi dari segi peminjamnya masih sangat rendah
 
Bambang Sulaksono

Salah satu bank yang sudah sejak dulu sudah terjun ke sektor mikro dan kecil adalah Bank Rakyat Indonesia atau BRI, dengan unit yang menyebar sampai ke tingkat kecamatan maupun desa.

Masalahnya sepertinya masih ada hambatan dalam penyaluran keuangan mikro di Indonesia.

"Data pinjaman memang meningkat dua kali lipat, tapi dari segi peminjamnya masih sangat rendah, kata Bambang Sulaksono, peneliti senior di Yayasan Smeru.

Bambang Sulaksono mengambil contoh BRI, dengan periode Tahun 2001-2007 yang mencatat peningakatan peminjam hanya 4,45% padahal peningkatan dana yang dipinjamkan mencapai 38,5 %.

"Jadi kalau dilihat dari sini berarti keuangan mikro itu belum tersentuh oleh lembaga keuangan formal karena yang meminjam itu-itu saja. Hanya 4,5% peminjam baru," tambahnya.

Memang dalam kenyataannya tak mudah bagi pengusaha mikro untuk mendapatkan kredit modal guna mengembangkan usahanya.

Salah satu faktor yang menghambat adalah biasanya pengusaha mikro tidak memiliki jaminan agar bisa mendapatkan pinjaman.

 
 
Nama
Kota/Negara
Email
Komentar anda
 
  
BBC mungkin mengedit komentar anda dan tidak menjamin semua akan diterbitkan
 
Solo Kredit Mikro
Laporan khusus kredit usaha mikro, kecil, dan menengah
 
 
PIK Medan Potensi UMKM
Menyumbang pajak dan membuka lapangan kerja baru
 
 
Wingko Mencari modal
Jaminan atau agunan menjadi salah satu hambatan
 
 
Rupiah Yang tersedia
Banyak kredit yang tersedia tapi tak selalu bisa diakses
 
 
Keripik ubi Mustika Lembaga sosial
Lembaga sosial memberi kredit tanpa jaminan untuk UMKM.
 
 
Berita utama saat ini
 
 
Email kepada teman   Versi cetak
 
  Bantuan | Hubungi kami | Tentang kami | Profil staf | Pasokan Berita RSS
 
BBC Copyright Logo ^^ Kembali ke atas
 
  Berita Dunia | Berita Indonesia | Olahraga | Laporan Mendalam | Ungkapan Pendapat | Surat dari London
Bahasa Inggris | Berita Foto | Cuaca
 
  BBC News >> | BBC Sport >> | BBC Weather >> | BBC World Service >> | BBC Languages >>
 
  Bantuan | Privacy