|
Beda pandangan soal kebijakan di Irak
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Barack Obama sejak awal sudah menyatakan penentangannya atas invasi Amerika atas Irak.
Pada tahun 2002, ketika dia masih menjadi politisi di negara bagian Illinois, dan Kongres belum menyetujui invasi atas Irak, Obama mengucapkan pidatonya menentang invasi itu. "Saya tidak menentang perang dalam segala situasi," kata Obama.
"Kalau saya lihat di sini, kita tidak kekurangan patriot maupun patriotisme. Yang saya tentang adalah perang yang tolol," ujarnya. Lebih lanjut dia mengatakan seandainya perang Irak sukses pun, pendudukan Amerika tidak akan bisa diketahui batas waktunya, begitu pula biaya dan dampaknya. Mendukung invasi Sebaliknya John McCain sejak awal sudah mendukung invasi atas Irak, seperti halnya sebagian sangat besar anggota Kongres ketika itu.
Yang membuat sikap John McCain berbeda dari banyak politisi lainnya adalah, dia mendukung penambahan pasukan Amerika ketika sebagian besar pengamat dan politisi sudah mengatakan sebaiknya Amerika menarik pasukannya dari Irak. "Sudah umum diketahui bahwa saya mendukung penambahan pasukan besar-besaran dan menurut sebagian besar pengamat yang objektif, kebijakan ini berhasil meski sebelumnya banyak diramal akan gagal," kata McCain. "Setelah kembali dari Irak saya bisa katakan bahwa situasi di sana sudah sangat membaik dibanding tahun lalu," ujarnya. Meski pada awalnya ke dua calon presiden ini mempunyai sikap yang berlawanan soal Irak, perbedaan di antara mereka sekarang tidak begitu tajam. Barack Obama menginginkan penarikan sebagian besar pasukan Amerika Serikat secara bertahap dalam waktu 16 bulan setelah dia menjadi presiden. Menanggapi usulan ini, John McCain mengatakan selama kondisi di lapangan memungkinkan, dia setuju dengan rentang waktu yang diusulkan Barack Obama. Kondisi lapangan Kuncinya tentu adalah kondisi di lapangan. Bagi John McCain Amerika Serikat harus meninggalkan Irak dengan kemenangan, dan menurutnya sebagian besar Amerika sudah aka bisa kembali pada tahun 2013.
Walaupun tertinggal dalam banyak indikator jajak pendapat yang lain, John McCain masih unggul dari Barack Obama dalam masalah keamanan dan politik luar negeri. McCain berkali-kali menggambarkan Obama masih hijau dan naif. Sebagai senator yang baru dilantik tahun 2005, Barack Obama belum bisa banyak bercerita tentang pengalamannya dalam politik dalam negeri. Tapi dalam bukunya The Audacity of Hope, Barack Obama menggunakan Indonesia sebagai ilustrasi tentang politik luar negeri Amerika di seluruh dunia. Di situ Obama mengatakan Amerika berperan dalam membantu perjuangan kemerdekaan Indonesia dan memajukan perdamaian dunia, tetapi juga kadangkala mentolerir tirani dan membuat dunia semakin berbahaya. |
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||