BBCIndonesia.com
  • Bantuan
 
Diperbaharui pada: 04 Maret, 2008 - Published 13:45 GMT
 
Email kepada teman   Versi cetak
Keragaman Malaysia disoal
 

 
 
Malaysia
Unjuk rasa warga Hindu untuk menuntut persamaan hak
Menjelang pemilihan umum Malaysia, tanggal 8 Maret mendatang, koalisi Barisan Nasional yang berkuasa tampaknya menghadapi sejumlah persoalan.

Selain kenaikan harga pangan dan bahan bakar minyak, Malaysia belakangan ini juga dilanda sejumlah aksi unjuk rasa yang menentang ketidakadilan.

Salah satu aksi unjuk rasa besar yang masih dikenang banyak orang adalah unjuk rasa keturunan warga India Bulan Novembeer 2007.

Saat itu aparat keamanan Malaysia sampai melepaskan gas air mata untuk membubarkan aksi unjuk rasa yang menuntut persamaan hak.

Dan 5 pemimpin Hindraf, yang merupakan organisasi umat Hindu di Malaysia, masih mendekam di penjara karena dianggap melanggar UU Keamananan Dalam Negeri.

Umumnya umat Hindu di Malaysia mendukung Kongres India Malaysia, MIC, yang merupakan wadah politik masyarakat keturunan India.

Berbasis ras dan agama

 Tapi sekarang sudah 50 tahun dan kita mesti menuju sebuah masa dengan identitas nasional
 
Herman Shastri

Hingga saat ini Malaysia memang merupakan satu dari segelintir negara yang masih mengenal politik berbasis ras dan agama.

Dan sekat-sekat ras maupun agama bisa terlihat dalam kehidupan politik praktis di Malaysia.

Sebut saja PAS sebagai partainya orang Melayu Islam, begitu juga dengan UMNO yang didukung umat Melayu Islam, sedangkan warga keturunan Cina mendukung MCA dan DAP.

Hermen Shastri, Sekretaris Eksekutif Federasi Kristen Malaysia, mengatakan politik berbasis ras dan agama sudah tidak relevan lagi.

"Waktu mencapai kemerdekaan, masalah itu adalah perkara yang penting sebab waktu itu ada Melayu ada Cina dan bagaimana sebagai negara perlu membangun etos bersama."

"Tapi sekarang sudah 50 tahun dan kita mesti menuju sebuah masa dengan identitas nasional," tambahnya.

Umat Melayu Islam merupakan mayoritas di Malaysia

Kondisi tersebut, menurut Hermen Shastri, menyebabkan isu-isu ras dan agama menjadi sangat peka dan justru berpotensi menimbulkan gejolak sosial di negara majemuk dengan penduduk sekitar 27 juta.

Contoh perselisihan yang terjadi antara lain adalah konflik pindah agama yang sampai membubarkan rumah tangga pasangan Suresh dan Revati.

Pernah juga berlangsung perebutan jenazah antara Jawatan Islam dan keluarga almarhum yang beragama Kristen.

Menghormati peraturan

Dalam kenyataannya masyarakat Malaysia dianggap sudah mulai berubah, seperti diamati oleh Dr. Farish Ahmad Noor, dari Nanyang Technological University Singapura, yang mengamati pemilu Malaysia.

"Yang terjadi di Malaysia selama 2 tahun memang memberikan bukti bahwa masyarakat Malaysia sendiri sudah berubah."

Dan perubahan itu bukan karena persekutuan politik antar partai-partai tapi sebagai hasil dari relasi antara masyarakat, yang semakin rumit.

"Kita risau kalau keadaan ini tidak diperbaiki maka mungkin akan membawa konflik pada masa-masa yang akan datang," tutur Dr. Farish Noor.

"Di kalangan minoritas Malaysia saat ini, mereka tidak bisa lagi menerima budaya dan struktur politik lama karena landasan ras dan kaum tidak menyelesaikan masalah dialog antar kaum."

Namun potensi konflik hubungan antaar agama dan ras di Malaysia itu tidak perlu dibesar-besarkan, kata Yusri Mohamad, Ketua Angkatan Belia Islam Malaysia, ABIM.

"Contohnya perkawinan antara agama tidak akan meniadi masalah besar jika pihak-pihak terkait menggunakan realitas kaidah dan sistem yang berlaku di Malaysia."

Malaysia
Malaysia ingin menempatkan Islam jadi ujung tombak modernisme

"Pihak yang ingin kawin dengan pasangan beragama Islam harus menghormati UU di Malaysia yang tidak membenarkan wanita Islam kawin dengan yang bukan Islam. Kalau institusi agama lain menghormati perarturan dengan tidak mengawinkan begitu saja, maka langkah pertama sudah dielakkan."

Meraih semua warga

Tak bisa dihindari kalau pemilu tahun ini masih akan tetap diwarnai dengan politik ras dan agama.

Hanya Partai Keadilan Rakyat yang secara terang-terangan menyatakan akan mengakhiri politik ras.

Sedangkan Malaysia Chinese Association (MCA) yang masuk Barisan Nasional yang berkuasa, mengaku menentang penggunaan agama untuk tujuan politik.

Namun apa sebenarnya yang menjadi manifesto dari MCA? Itulah pertanyaan yang diajukan kepada Wakil Ketua MCA, Datuk Sri Chan Kong Choy.

"Kami tidak berdasarkan pada prinsip pengasingan. Manifesto kami adalah manifesto Barisan Nasional," jawabnya.

Barisan Nasional memang mencoba mencerminkan kemajemukan masyarakat Malaysia, walau 60% penduduknya adalah Melayu Muslim.

Sisanya terdiri dari 25% keturunan Cina beragama Budha, Tao, dan Kristen, serta 8% adalah etnik India dengan mayoritas Hindu.

Walau partai politik belum melepaskan akar ras dan agama, namun dalam kampanye kali ini semua partai tampak berupaya merangkul semua umat.

Calon-calon serta para juru kampanye senantiasa mendatangi golongan etnik berbeda dan mengumbar janji untuk membangun sekolah India dan Cina, atau memberikan subsidi.

Bahkan tak sedikit pula juru kampanye yang menyapa massa dengan tiga salam sekaligus.

Pada akhirnya tujuan partai politik adalah meraih kekuasaan, dan untuk menjamin kemenangan semua warga Malaysia rupanya harus diperhitungkan.

 
 
Nama
Kota/Negara
Email
Komentar anda
 
  
BBC mungkin mengedit komentar anda dan tidak menjamin semua akan diterbitkan
 
Berita utama saat ini
 
 
Email kepada teman   Versi cetak
 
  Bantuan | Hubungi kami | Tentang kami | Profil staf | Pasokan Berita RSS
 
BBC Copyright Logo ^^ Kembali ke atas
 
  Berita Dunia | Berita Indonesia | Olahraga | Laporan Mendalam | Ungkapan Pendapat | Surat dari London
Bahasa Inggris | Berita Foto | Cuaca
 
  BBC News >> | BBC Sport >> | BBC Weather >> | BBC World Service >> | BBC Languages >>
 
  Bantuan | Privacy