http://www.bbc.com/indonesian/

15 Desember, 2007 - Published 21:42 GMT

Bengawan Solo, riwayatmu kini

Mahasiswa Universitas Sebelas Maret mengamati pencemaran yang terjadi di Bengawan Solo, sungai terpanjang di pulau Jawa.

Muhamad Nawawi dari UNS dan rekan-rekannya menyusuri sungai ini dan menyaksikan pencemaran yang terjadi, termasuk sejumlah orang yang mencuci kain batik di sungai ini.

Sungai ini merupakan sarana vital bagi jutaan penduduk di dua propinsi, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

"Air sudah tidak dapat digunakan lagi, dulu bening, tetapi sekarang tidak dapat lagi digunakan, termasuk untuk irigasi pertanian.

"Untuk mandi pun, tidak bisa. Badan jadi gatal-gatal," kata Hadi, seorang petani yang tinggal di aliran sungai Bengawan Solo.

Tercemarnya Bengawan Solo, bukan hanya oleh ibu ibu yang mencuci batik, tetapi akibat industri yang ada di sekitarnya, terutama industri batik.

Lalu, bagaimana kondisi Bengawan Solo di masa datang, di tengah berubahnya iklim?

Batik memang merupakan salah satu kerajinan khas Kota Solo dengan lebih dari 120 industri batik, besar ataupun kecil. Namun banyaknya industri batik, selain juga industri lain, turut memberikan andil tercemarnya Sungai Bengawan Solo.

Selain tercemar, sungai ini juga mengalami erosi seperti kata Rohana Dewi, Ketua LSM Lingkungan Gita Pertiwi Solo.

"Dengan adanya perubahan iklim, sungai Bengawan Solo akan semakin memprihatinkan. Adanya kenaikan suhu akan mengurangi debit air.

"Dan adanya kerusakan lingkungan dan pencemaran menyebabkan tidak adanya mikrobia ikan-ikan yang bisa hidup di situ, dan sungai ini bisa jadi mati, dalam arti tidak dapat digunakan lagi oleh manusia," kata Rosana Dewi.

Bila sungai ini tidak dapat digunakan lagi di kemudian hari seperti kata Rohana Dewi, tentunya akan sangat mengkawatirkan.

Sungai ini mengalir melalui 9 Kabupaten dan Kotamadya di Jawa Tengah serta 11 Kabupaten dan Kotamadya di Jawa Timur.

Wilayah Sungai Bengawan Solo mengalir dari arah barat daya di pantai selatan Propinsi Jawa Tengah ke arah timur laut di pantai utara Jawa Timur.

Pencemaran dan pendangkalan sungai Bengawan Solo telah dirasakan dampaknya oleh para petani yang tinggal di aliran sungai.

Sejauh ini yang paling merasakan dampak pencemaran sungai Bengawan Solo adalah warga di sekitar aliran dan pinggiran kota. Warga di kota Solo mendapatkan air dari sumber sungai lain di Klaten.

"Keluarga saya petani, dan saya ingat sekali waktu kecil, produksi kami seperti cabai, bisa berkarung-karung. Tetapi sekarang, walaupun sudah diberi pupuk apapun, tidak mempan. Mungkin karena limbah yang sudah sangat kotor," kata Pertiwi, seorang petani.

Kepala bidang program dan evaluasi, balai besar wilayah Sungai Bengawan Solo, Tri Rohadi mengatakan telah melakukan berbagai upaya telah ditempuh untuk mengatasi pencemaran dan pendangkalan Sungai Bengawan Solo.

"Untuk pencemaran yang kami lakukan adalah menegakkan peraturan. Ada peraturan yang menetapkan tentang standard limbah," kata Rohadi.

"Untuk mengatasi kekeringan, kami mengupayakan penanaman kembali. Dengan reboisasi diharapkan dapat menyerap air tanah yang dapat digunakan bila kekeringan.

"Kita perlu juga mengubah paradigma bahwa air sekarang sangat terbatas dan perlu dilakukan konservasi, " kata Rohadi.

Namun Pakar lingkungan dari LSM Gita Pertiwi Solo, Rohana Dewi mengatakan kondisi Sungai Bengawan Solo sekarang ini, akan diperparah dengan perubahan iklim.

Lalu apa yang dapat dilakukan untuk menekan laju dampak perubahan iklim ini?

Rohana Dewi mengatakan masyarakat harus bersama-sama menjaga sungai namun pemerintah di propinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur harus melakukan koordinasi mengatasi pencemaran yang terjadi.

Namun bagaimana dengan masyarakat di sekitar sungai bengawan solo sendiri? Apakah mereka sadar, sungai yang menopang kehidupan mereka ini akan semakin parah kondisinya, bila tidak dijaga?

"Kami melakukan gotong royong untuk menjaga kali," kata seorang warga yang tinggal di pinggir sungai.

Ditengah ini semua, apa kata Gesang, pencipta lagu Bengawan Solo?

"Waktu saya muda, orang-orang di Solo duduk-duduk di pinggir sungai, mandi, bermain-main, atau mancing. Namun sekarang tidak lagi. Banyak ikan mati, karena sungai tercemar, bau," kata Gesang.