|
Akankah terusir dari tanah pesisir?
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Mahasiswa Universitas Andalas, Padang, mengunjungi daerah pesisir yang beberapa kali terhantam gelombang pasang.
Gelombang pasang yang terjadi pertengahan 2007 menyebabkan ratusan rumah penduduk rusak. Pakar perubahan iklim memperkirakan, ancaman gelombang ini akan semakin parah ditengah pemanasan global yang meningkatkan permukaan air laut. Akan terusirkah mereka dari tanah pesisir? "Mengungsilah kami, karena rumah kami rusak," kata seorang penduduk di perumahan nelayan di kawasan Pasir Jambak, bercerita tentang gelombang pasang yang menghantam Juni 2007 lalu. Sejumlah nelayan sempat pindah ke rumah sanak saudara mereka, namun kemudian kembali lagi ke daerah pesisir setelah rumah-rumah mereka diperbaiki. "Saya sudah tiga kali pindah, sejak tahun 2003, dan rumah saya sudah saya pindahkan sekitar 12 meter dari bibir pantai," cerita seorang nelayan lain di kawasan pantai Parupuk. Rumah papan keluarga dengan lima anak ini terbuat dari papan, dan letaknya sekitar 10 meter dari pinggir pantai. Sejumlah rumah papan, di kanan kiri keluarga Ahmat Arifin ini juga masih rusak.
Pemerintah kota Padang menyediakan rumah pengganti kepada mereka yang rumahnya tidak dapat ditempati lagi, tetapi para nelayan kembali ke tempat semula karena lokasi yang disediakan, jauh dari pantai. Pakar perubahan iklim memperingatkan pada tahun 2070, permukaan air laut akan naik 60 centimeter dan bila skenario ini terjadi, 2000 pulau di Indonesia diperkirakan akan hilang. Lalu, bagaimana nasib penduduk di pesisir ini? Kota Padang mempunyai total garis pantai sepanjang lebih 99 ribu kilometer.
Di pesisir timur Padang, terletak cagar budaya batu malin kundang. Gelombang pasang yang terjadi bulan Mei lalu juga merusak objek wisata batu malin kundang ini. Selain itu, banyak bangunan-bangunan sejarah di sepanjang pesisir padang yang juga mengalami kerusakan. Di kawasan pesisir Padang lainnya, di pantai Air Manis, ada satu pulau terdekat bernama Pulau Pisang, yang berjarak kurang lebih 500 meter dari bibir pantai. Pulau ini dapat dicapai dengan berjalan kaki atau dengan kendaraan, sewaktu surut. "Saya tidak tahu, apakah dunia ini makin sempit atau apa. Yang jelas, kita bisa berjalan ke pulau bila air surut," kata seorang penduduk pesisir. Pakar lingkungan Badrul Mustafa Kemal dari Universitas Andalas Padang menegaskan semakin menjoroknya air laut ke daratan diakibatkan oleh abrasi pantai, karena hilangnya penahan pantai seperti hutan bakau. Namun Badrul mengatakan pemanasan global menyebabkan naiknya permukaan air laut yang semakin mengancam kawasan pantai. Para nelayan sendiri mengatakan mereka semakin kesulitan untuk menentukan kapan melaut atau tidak karena cuaca yang tidak menentu dan juga ombak besar. "Kalau tidak melaut, saya pinjam uang dulu ke tetangga untuk kami makan, atau ke keluarga. Bila kami dapat melaut lagi, barulah, uang kami kembalikan," kata Ahmad Arifin. Di sepanjang pantai Padang, saat ini terdapat sekitar 340 ribu jiwa penduduk yang sebagian besar adalah nelayan. Namun dengan ancaman naiknya permukaan air laut dan gelombang pasang, mereka masih belum memiliki pilihan untuk mencari pekerjaan lain.
Kesulitan ekonomi menyebabkan banyak anak-anak nelayan yang putus sekolah, sementara para nelayan sendiri semakin kesulitan mencari penghasilan. Pemerintah Kota Padang sendiri mendirikan penahan gelombang berupa batu-batu dan juga melakukan gerakan penghijauan di pantai. Mereka juga merencanakan relokasi penduduk di pesisir, namun terbentur kesulitan untuk membujuk mereka pindah. "Berdasarkan undang-undang sebenarnya, 100 meter dari pinggir pantai tidak boleh ditempati. Tetapi dengan perkembangan penduduk hal ini tentu tidak dapat kita cegah," kata Indang Dewata, dari Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Daerah, Kota Padang. "Kami mengupayakan relokasi. Tetapi kami terbentur oleh ketidakmauan mereka pindah dari pinggir pantai karena penghidupan mereka di daerah pantai. Karena itu pemeritah daerah selalu melakukan sosialisasi agar pola mereka yang hidup sebagai nelayan menjadi petani," kata Indang lagi. Indang menambahkan sasaran relokasi adalah daerah yang dianggap paling rawan, seperti Parkit, karena belum adanya penahan gelombang berupa batu-batu besar. Tahun 2007 ini saja, ratusan rumah hancur tersapu gelombang pasang di pesisir Padang. Naiknya permukaan laut diperkirakan akan menjadi ancaman bagi penduduk di pesisir. Perkiraan ini tidak hanya untuk pesisir Padang saja. Akankah masih kita dengar, suara dan gelak tawa penduduk pesisir, di akhir abad ini? Atau, apakah mereka akan terusir? |
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||