|
Menyusutnya sumber air
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Mahasiswa Universitas Airlangga Surabaya mengkaji berkurangnya sumber air Sungai Brantas yang menghidupi jutaan orang di Jawa
Timur.
Panji Lanang Satriadin, mahasiswa Unair mengunjungi salah satu sumber air di kawasan Batu, Malang, untuk melihat bagaimana kondisi sumber air ini. "Dulu ada kali besar, sekarang sudah tidak ada lagi. Tahun 1980an masih dapat digunakan, tetapi sekarang untuk sawah saja sulit, apalagi untuk persediaan air bersih," kata Rianto yang tinggal di salah satu sumber air Sungai Brantas. Sumber air sungai Brantas di Gunung Arjuno dan Welirang awalnya berjumlah 80 buah dan saat ini berkurang menjadi 40 sumber air, menurut Perum Jasa Tirta, yang menangani wilayah Sungai Brantas. Sebagian besar warga di dusun Jurang Kuali dan sekitarnya, Batu, Malang bercocok tanam. Di kiri kanan jalan, saat menuju Batu dari Surabaya, terhampar sawah, dan lahan yang ditanami bawang merah, cabai, apel dan mawar. Karena itu, irigasi pertanian merupakan kebutuhan vital bagi warga. Namun mereka mengatakan sumber air terus menyusut. Sekitar 100 kilometer dari Batu, di ibukota Jawa Timur, Surabaya, lain lagi masalah yang dihadapi oleh warga, khususnya yang tingal di sepanjang aliran bantaran Sungai Brantas, Driyorejo. "Kami rasakan gatal-gatal bila kami mandi di sungai. Semua sudah merasakan, karena itu kami buat sumur sendiri-sendiri, tetapi kualitas air tanah juga buruk," kata Samian. Air yang tercemar tidak hanya menyulitkan warga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, air kotor juga sering menimbulkan penyakit, terutama penyakit kulit. Samian termasuk dari ribuan penduduk di bantaran sungai yang mengeluh karena kualitas air sumur yang berasal dari resapan sungai yang buruk.
Air sungai tidak dapat digunakan lagi, karena kotor akibat limbah industri, dan karenanya, warga setempat terpaksa membuat sumur, untuk digunakan bersama-sama. Namun kualitas air tanah pun juga buruk Tercemarnya air sungai, tidak hanya disebabkan oleh limbah industri, tetapi juga limbah rumah tangga. "Warga banyak yang buang sampah ke sungai, ya, kalau sungai kotor, baunya sangat menyengat, " kata Ibu Marinten, salah seorang warga bantaran sungai. Direktur Eksekutif Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON) Surabaya, Prigi Arisandi, mengatakan pencemaran yang terjadi akibat limbah industri dan juga rumah tangga. Pencemaran sungai akibat limbah, terjadi di hilir, sementara di hulu, kata Prigi, sumber air Sungai Brantas banyak berkurang akibat alih fungsi hutan atau daerah resapan air menjadi perumahan, hotel ataupun perusahaan. "Di hilir, kualitas air sangat mengkawatirkan, karena ada 330 ton limbah cair yang dibuang di kali brantas tiap hari. Komposisi pencemaran ini termasuk dari sekitar 800 industri yang ada di 13 kota dan kabupaten," kata Prigi.
Sunarno, Humas Perusahaan Daerah Air Minum, PDAM Kota Surabaya, yang mengelola pasokan air minum warga, memperingatkan pihaknya semakin sulit mengelola air minum di kota Surabaya. "Kami himbau masyarakat dan pihak berwenang, dari hulu ke hilir untuk ikut membantu menjaga air sungai. Kali Surabaya ini, merupakan bahan baku air minum kurang lebih 2,7 juta penduduk Surabaya. "Kalau kuantitas kami dapat memenuhi, tetapi secara kualitas kami tidak dapat memenuhi, itu sama juga bohong. Seberapapun air yang ada di Kali Surabaya dan tidak dapat kami olah, maka akan terjadi kiris air," kata Sunarno. Dan pihak yang paling merasakan dampak kesulitan air bersih jelas warga Surabaya sendiri. Mereka juga merasakan rendahnya kualitas air PDAM. "Sehari hari saya menggunakan air isi ulang, kalau air dari PDAM, takutnya kurang bersih," kata seorang warga Surabaya. Kualitas air sungai Brantas yang semakin buruk, ditambah lagi dengan hilangnya sebagian sumber air di hulu, akan menyebabkan berkurangnya pasokan air minum. Lalu, bagaimana dengan prospek ke depan? Ridho Syaiful Ashadi, Direktur Walhi Jawa Timur mengatakan masa depan sungai tidak terkait dengan perubahan iklim. "Ekosistem sungai tidak ada hubungannya dengan perubahan ikim dan masa depan sungai. Yang perlu dipikirkan adalah bagaimana ekosistem dari hulu sampai hilir terkelola," kata Syaiful. Namun pakar lingkungan dari Institut Teknologi 10 November Surabaya, ITS, Agus Slamet menyatakan sebaliknya. "Kontinuitas persediaan air, bukan karena pembatan hutan, tapi perubahan iklim. Intensitas dan jumlah curah hujan, akan mempengaruhi kemampuan menampung air. Bila curah hujan menurun, maka kemampuan juga kurang," kata Penduduk kota yang mampu saat ini bisa menggunakan air kemasan untuk keperluan air minum. Namun, sampai kapan persediaan air bersih ini akan tersedia, sementara sumber air sungai Brantas berkurang dan airnya kian menyusut? |
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||