|
Jakarta terancam tenggelam?
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Mahasiswa Universitas Indonesia mengunjungi Muara Angke, Jakarta Utara, yang tergenang air pasang beberapa kali dalam tahun
2007 ini.
Air pasang yang terjadi bulan Juni lalu bahkan mencapai dua meter. Pakar perubahan iklim memperkirakan permukaan air laut akan naik akibat pemanasan global. Apakah Jakarta terancam tenggelam suatu saat nanti? Endah Heliana, mahasiswa Universitas Indonesia mengunjungi pemukiman nelayan di Muara Angke, dan para nelayan menceritakan air pasang yang melanda tempat tinggal mereka. "Sudah sering terjadi. Yang terakhir sampai dua meter. Daerah seputar kami, dapat kami lalui dengan perahu," kata seorang nelayan.
Gelombang pasang di Jakarta utara, yang dapat dianggap sebagai pelindung ibukota dari abrasi pantai, menurut warga yang kami kunjungi semakin sering terjadi. Pakar dampak perubahan iklim, yang tergabung dari panel ilmuwan internasional, IPCC, memperkirakan, pemanasan global yang menyebabkan naiknya permukaan laut, akan menenggelamkan sejumlah tempat di dunia. Apakah itu berarti ibu kota Jakarta juga terancam tenggelam di akhir abad ini? Di seputar kampung nelayan ini terdapat tanggul sekitar satu setengah meter yang dibangun untuk menghalangi air pasang. Untuk mengatasi gelombang pasang ini, pemerintah DKI Jakarta membangun tanggul baru. Tanggul lama tidak berfungsi lagi, karena permukaan air laut semakin meninggi. Abrasi menggerus pinggiran Jakarta. Hutan bakau sebagai pelindung abrasi semakin terkikis dan hanya tinggal di kawasan cagar Muara Angke. Akibatnya air laut semakin masuk ke daratan. Luas lahan Jakarta semakin berkurang akbiat instrusi air laut ini, sementara tanggul sebagai penahan, selalu ditinggikan. "Kami selalu meninggikan tanggul, sudah gak kehitung, dan pernah tanggul jebol, ya...mungkin karena tidak tahan menahan air pasang," kata nelayan lain. Dari sisi mata pencaharian, cuaca yang sulit ditebak menyulitkan nelayan melaut. Dari tahun ke tahun , menurut mereka, air pasang terus meningkat. Tidak jauh dari kawasan nelayan Muara Angke, juga banyak pemukiman penduduk, termasuk perumahan mewah. "Saya sejak tahun 1960an tinggal di Muara Karang. Pesisir semakin terkikis, kurang lebih 100 meter, menjorok ke darat," kata penduduk di Muara Karang, tidak jauh dari pemukiman nelayan. Air pasang yang terjadi Juni 2007, mengakibatkan paling tidak lima ratus kepala keluarga kecamatan penjaringan di Jakarta utara ini terpaksa mengungsi. Untuk mengatasi air pasang ini, pompa air juga ditambah. Tetapi, sampai kapan pompa dapat digunakan dan tanggul dapat bertahan di kawasan Jakarta utara ini?
Bulan Februari lalu, Jakarta dilanda banjir besar. Kawasan yang paling parah terkena antara lain Kalibata dan Pasar Minggu di Jakarta Selatan, dengan air banjir mencapai dua meter. Banjir juga melanda kawasan Sudirman, kawasan sibuk yang selama ini dianggap aman banjir. Saat banjir besar itu, 70% wilayah Jakarta tergenang selama lima hari, naik 20% dibandingkan tahun 2002. Sekitar 700 km2 daratan rata-rata tergenang air setinggi satu meter.
Surutnya air banjir, semakin diperparah dengan penanganan sampah. Penggunaan air tanah secara berlebihan dan pembangunan ibukota dengan penggunaan tiang pancang besar, menyebabkan permukaan tanah ibukota menurun, kata Moekti H. Soejachmoen, direktur LSM lingkungan, Pelangi. Lalu pertanyaanya adalah, bagaimana prospek ke depannya? Akankah ibukota terancam tenggelam? "Yang mengerikan adalah seberapa sering air pasang dapat naik di Jakarta. Dulu mungkin kita bisa jalan 10 meter, namun sekarang air sudah semakin menjorok ke daratan. "Sementara itu kondisi tanah semakin turun, dan permukaan air laut naik karena pemanasan global. Ada beberapa studi yang sebutkan, bila pemanasan global yang terjadi menyebabkan kenaikan sampai 5 drajat dari jaman sebelum industrilisasi. "Bila permukaan air laut naik setengah meter, sementara permukaan tanah Jakarta juga terus menurun. Enam puluh centi buat Jakarta, itu bisa sampai Monas," kata Moekti. Namun di tengah ini semua, apa yang dapat dilakukan untuk memperlambat pemanasan global? Azam Mulyadi dari Badan Pengelola Lingkungan Hidup DKI Jakarta mengatakan pihak Pemda antara lain menetapkan penggunaan bensin tanpa timbal, dan penggunaan bahan bakar gas untuk Busway. Sementara untuk menangani semakin naiknya air pasang di kawasan pesisir Jakarta, Azam Mulyadi mengatakan Pemda mendirikan penaham ombak. "Kita sudah membuat barrier (pembatas), di sepanjang pantai. Kenaikan air laut sudah terjadi. Tapi untuk ke depan, ktia belum tahu, mungkin turun, mungkin naik. Namun kita sudah membuat barrier dengan batu yang diikat dengan kawat-kawat," kata Azam. |
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||