|
NTT: Iklim ancam lumbung
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Mahasiswa Universitas Nusa Cendana, Kupang, mengangkat masalah kekeringan yang terjadi di propinsi Nusa Tenggara Timur.
Kekeringan ini menimbulkan ancaman kerawanan pangan bagi penduduk di propinsi ini. Para pakar lingkungan memperingatkan kekeringan akan semakin parah, karena musim kemarau akan semakin panjang. Muhamad Hamka dari Universitas Nusa Cendana, Undana, dan rekan-rekannya mengunjungi desa Bena, Kecamatan Amanuban Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan, yang terletak sekitar 150 kilometer dari Kupang. Gagal panen merupakan cerita tahunan penduduk di desa ini. "Saya pernah tiga hari tidak ada beras. Tidak makan. Saya sempat pinjam dulu ke teman atau keluarga, dan kalau sudah ada uang, kami kembalikan lagi," kata Martida Rohi, salah seorang ibu di desa ini.
Cerita gagal panen mereka ini hanya sebagian dari cerita gagal panen akibat kekeringan di lebih 4,7 juta hektar areal pertanian di seluruh Nusa Tenggara Timur. Dari luas itu lebih 174.000 diantaranya adalah areal persawahan. Dr I W Mela, pakar pertanian dari Universitas Nusa Cendana, mengatakan kekeringan sudah menjadi cerita tahunan di NTT. Dan khusus untuk kawasan Amanuban Selatan hal ini diperparah dengan letak geografis yang dekat pantai. "Kekeringan di kawasan Amanuban diperparah akibat letak geografis, namun jelas kekeringan yang terjadi sekarang ini, juga merupakan dampak dari perubahan iklim," kata Dr. Mela. Kerawanan pangan Kekeringan parah ini juga menimbulkan kerawanan pangan di sebagian besar NTT. Bagi anak-anak, kesulitan ini menyebabkan tingginya angka kurang gizi. Dr. Bobbi Koamesah dari dinas kesehatan NTT mengatakan angka kurang gizi di NTT dalam kategori tinggi, berdasarkan standar yang ditetapkan departemen kesehatan, dan juga organisasi kesehatan PBB, WHO.
"Untuk NTT, angkanya sekitar 80.000 dari sekitar 480.000 balita. Dan angka kurang gizi ini sangat terkait dengan ketersediaan pangan di keluarga," kata dr. Bobbi. Peneliti lingkungan juga dari Universitas Nusa Cendana, I Wayan Mudita memperingatkan kekeringan akan bertambah parah, dengan iklim yang berubah sekarang ini. Namun, menurutnya masyarakat tidak mengerti mengapa sekarang ini cuaca sulit ditebak. "Mereka biasanya menanam berdasarkan pengetahuan dari nenek moyang mereka, namun sekarang mereka bingung, mengapa cuaca berubah. Jadi terjadi kebingungan budaya dalam hal ini. Sekarang, mengapa tidak bisa menghasilkan panen lagi, sementara mereka menanam pada waktu yang sama seperti dulu," kata Mudita. Menekan laju Di tengah perkiraan suram ini, apa yang dapat dilakukan untuk menekan laju kekeringan ini? Pakar pertanian, dari UNDANA, Dr Mela mengatakan, salah satunya adalah dengan diversifikasi pertanian. Hal senada juga dikatakan oleh Kepala Dinas Pertanian NTT, Piet Muga.
"Diversifikasi tanam dan juga pangan. Bila tidak ada beras, penduduk bisa makan ubi atau jagung. Dan yang penting lagi, adalah menyimpan hasil tani ini di lumbung-lumbung untuk menghadapi kekeringan," kata Piet Muga. Namun di Desa Bena, penduduk melakukan apa yang dapat mereka lakukan untuk menyambung hidup. "Bila musim buah asam, kami jual buah di pasar, untuk beli beras atau makanan lain," kata ibu Martida Rohi. "Saya tidak malu untuk kerja apapun untuk cari makan. Kalau ada pekerjaan tukang, ya saya kerjakan juga," kata Stefanus Rohi, suami Martida. Akankah lumbung semakin menipis di desa ini dan juga daerah lain di NTT, di tengah berubahnya iklim ini? |
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||