|
Kontroversi sekolah Bahasa Arab | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Tanda selamat datang yang dilambaikan para pendukung yang tersenyum, dimaksudkan menyambut 60 siswa yang mendaftar di sekolah bahasa Arab pertama yang didanai negara di New York. Namun tak bisa disembunyikan kehadiran belasan polisi di dekat pintu gerbang, maupun para wartawan yang ingin meliput pembukaan sekolah yang kontroversial ini. Akademi Internasional Khalil Gibran di Brooklyn, yang diambil dari nama penyair Libanon, telah berhasil menarik sejumlah siswa dengan latar belakang beragam. Sebagian ingin menjalin kembali kaitan dengan nilai-nilai keluarga dan budaya kampung asal. Namun sebagian siswa sama sekali tidak punya latar belakang Arab maupun Muslim, selain ingin belajar Bahasa Arab, yang menurut mereka akan memberi tambahan ketrampilan. Walau sekolah ini mendapat dukungan pemerintah, selama beberapa bulan belakangan muncul pro dan kontra tentang calon kepala sekolah maupun kecurigaan atas kurikulumnya. Kurikulum?
Sekolah ini mulai dibuka Selasa 4 September, dan para pengunjuk rasa berpawai di depan Balai Kota New York dengan membawa slogan 'Tutup Madrasah.' Mereka ingin agar sekolah bahasa Arab itu ditutup. Walau madrasah adalah Bahasa Arab untuk sekolah, di negara Barat kata 'madrasah' biasanya merujuk pada sekolah agama Islam yang radikal. Para penentang sekolah ini mengatakan kurikulumnya tidak cukup terbuka sehingga ada dugaan tentang agenda tersembunyi. "Kami semua mendukung pelajaran Bahasa Arab, jadi masalahnya bukan tentang pelajaran budaya Arab. Kami mendukung hal itu," kata Frank Gaffney, Presiden Pusat Kajian Keamanan dan Kebijakan di Washington. "Itu adalah belajar dengan cara yang baik, sedangkan yang ini bukan cara belajar yang baik. Kenyataanya adalah pelajaran dengan cara yang penuh bahaya dan bukan hanya untuk New York tapi juga negara ini," tambahnya. Di internet, bisa dilihat betapa sengitnya perdebatan tentang sekolah ini. Salah satu pendapat bahkan mengatakan lapangan sepakbola di sekolah itu akan diubah menjadi kem latihan teroris. Sementara yang lainya menulis; "sekarang Muslim bisa belajar bagaimana menjadi teroris tanpa harus meninggalkan New York." Tanpa agama Otorita pendidikan New York membela keberadaan sekolah ini. Menurut Gart Harries, kepada para wartawan, New York memiliki 200 sekolah serupa, seperti untuk Bahasa Cina, Perancis, maupun Rusia. Dengan demikian sekolah Bahasa Arab tidak ada bedanya dengan sekolah-sekolah lainnya. "Intinya adalah kurikulum tingkat 6 dan para murid mulai belajar dari dasar-dasar seperti Matematika, Inggirs, Sejarah, Sains," katanya kepada para wartawan. Namun pada saat bersamaan para siswa juga akan belajar Bahasa Arab, yang dianggap sebagai kesempatan unik dan menarik bagi mereka." "Agama jelas tidak menjadi bagian dari sekolah. Ini merupakan sekokah negeri dan agama tidak menjadi bagian di sekolah apapun di New York," tambahnya. Sekolah berbahasa Arab ini juga mendapat dukungan dari Walikota New York, Michael Bloomberg. Bukan radikalisme
Sebuah lembaga sosial, Koalisi Imigrasi, mengecam serangan atas sekolah ini dengan menyampaikan pesan yang jelas bahwa "serangan rasis yang mengkaitkan sekolah bahasa dan budaya Arab dengan teroriems tidak bisa diterima." Direktur Eksekutifnya, Chung-Wha Hong, mengatakan sekolah berbahasa Arab ini sama dengan sekolah lainnya, yang harus terbuka dalam soal kurikulumnya dan sudah melakukannya. "Jika ada yang mereka ingin perlihatkan adalah bentuk toleransi dan budaya yang ingin mereka ajarkan," tambahnya. Chung menegaskan tidaklah tepat untuk meminta informasi yang lebih banyak dari sekolah ini dibanding sekolah lainnya karena bisa berarti ukuran ganda. Bagaimanapun Mona elTahawy, seorang pengamat Islam dan Arab di New York, mengatakan bahwa sekolah itu sebaiknya lebih membuka rincian lebih banyak kepada khalayak umum. "Saya kira merupakan kelalaian serius sekolah dan Departemen Pendidikan untuk tidak membuat lebih jelas dan lebih awal tentang apa yang persisnya akan diajarkan di sekolah itu," kata Mona elTahawy. Pro kontra kepala sekolah
Kontroversi tentang sekolah ini makin menghangat karena kepala sekolah awalnya, Debbie Almontaser, dikutip membela penggunakan kata 'intifada' di kaus oblong. Intifada --kata yang sering digunakan dalam perjuangan Palestina melawan Israel-- kata Almontaser berarti 'mengguncang' dalam Bahasa Arab. Sementara itu 2 koran lokal melaporkan dia mempunyai kaitan dengan organisasi ekstrimis Islam. Namun teman dan pendukungnya mengatakan dia seorang umat Islam yang moderat yang justru mengupayakan pemahaman lintas agama. Namun Almontaser akhirnya mengundurkan diri dan diganti dengan Kepala sekolah warga Yahudi yang sama sekali tidak bisa berbahasa Arab. Para orang tua murid kecewa dengan keputusan itu, antara lain seorang ibu Yahudi yang ikut dalam tim perancang sekolah tersebut. Seorang ibu lainnya, Carmen Colon, yang tadinya mendaftarkan putranya yang berusia 11 tahun akhirnya menarik kembali pendaftaran saat kontroversi tentang sekolah itu menghangat. "Saya tahu bahwa warga Amerika yang belajar Bahasa Arab akan mendapatkan penghasilan besar, entah itu dari pekerjaan penerjemahan maupun di sektor layanan masyarakat," tuturnya. Di tengah-tengah perdebatan ini, sebuah sekolah berbahasa Ibrani di Hollywood, Florida, juga menjadi sorotan karena makanan Kosher dan direkturnya adalah seorang Rabbi. Dan Frank Gaffney menegaskan bahwa sekolah berbahasa Ibrani itu juga sebaiknya tidak mendapat bantuan dana pemerintah. | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||