http://www.bbc.com/indonesian/

24 Januari, 2006 - Published 14:38 GMT

Oleh Rebecca Morelle
Reporter Sains BBC News Online

Orang utan terancam manusia

Bukti-bukti genetika baru menunjukkan bahwa penurunan drastis populasi orangutan berkaitan dengan aktivitas manusia.

Para peneliti melaporkan bahwa jumlah orang utan berkurang dalam 200 tahun terakhir seiring dengan pembalakan hutan di daerah yang sama.

Studi itu menyorot orang utan di Taman Perlindungan Satwa Liar Kinabatangan di Malaysia.

Dalam tulisan di jurnal Plos Biology, para peneliti mengatakan masa depan spesies kera besar itu "suram" apabila tidak diambil tindakan pencegahan dengan segera.

Profil genetika

Tim itu meneliti 200 ekor orang utan yang hidup di sepanjang sungai Kinabatangan.

Penelitian itu mengumpulkan bulu dan kotoran hewan itu untuk mengambil DNA yang digunakan untuk menyusun profil genetika hewan tersebut.

Profil itu kemudian digunakan untuk meneliti keragaman genetika orang utan.

Profesor Michael Bruford, pakar biologi konservasi di Universitas Cardiff mengatakan kepadan BBC bahwa dia terkejut dengan hasil penelitian itu.

"Keragaman genetika dari populasi itu menunjukkan pertanda kuat bahwa jumlah orang utan turun secara drastis," katanya.

"Ini adalah hasil yang mengejutkan karena kami tidak mengira penurunan itu terjadi begitu cepat - dalam kurun waktu 200 tahun terakhir."

Perlindungan habitat

Penurunan populasi itu berhubungan kuat dengan eksploitasi hutan pasca masa kolonialisme di kawasan itu.

Sewaktu Kalimantan Utara menjadi bagian dari Kerajaan Inggris di akhir Abad ke-19, penggundulan hutan mulai dilakukan.

Dalam beberapa tahun belakangan, para ahli perlindungan lingkungan mengaitkan pengurangan jumlah orangutan dengan penggundulan hutan untuk membuka lahan bagi penanaman kelapa sawit yang memproduksi minyak untuk pembuatan pemulas bibir dan sabun.

Namun, pemerintah Malaysia mengatakan kepada BBC pada bulan November bahwa kelapa sawit utamanya ditanam di lahan bekas garapan.

Penelitian terhadap dampak lingkungan juga dilakukan sebelum kelapa sawit mulai ditanam, tambah mereka.

Jumlah orang utan saat ini hanya sekitar 50.000 ekor, menurut Peta Kera Besar di Dunia dan Perlindungannya yang diterbitkan badan-badan perlindungan lingkungan dan keanekaragaman hayati.

Profesor Bruford memperingatkan bahwa habita hewan itu harus dilindungi dengan lebih baik.

"Hal terpenting yang harus diingat adalah Kinabatangan hanya satu daerah dan masalah yang mengancam orang utan ini juga terjadi di daerah-daerah lain," tegas profesor Bruford.