BBCIndonesia.com
  • Bantuan
 
Diperbaharui pada: 17 Januari, 2006 - Published 13:01 GMT
 
Email kepada teman Versi cetak
Misi ke Pluto siap diluncurkan
 

 
 
Kapsul New Horizons
Badan angkasa luar Amerika (NASA) siap meluncurkan wahana ke Pluto, planet terakhir di tata surya yang belum dijelajahi.

Wahana yang dinamakan New Horizons akan diluncurkan dari Tanjung Canaveral di Florida, pada hari Rabu pukul 1316 waktu setempat (0116 WIB hari Kamis dini hari) di atas roket Atlas 5.

Peluncuran awalnya dijadwalkan pada Selasa siang waktu setempat namun ditunda karena faktor cuaca.

New Horizons adalah wahana tercepat yang penah dibangun untuk melakukan misi ke luar angkasa namun kapsul antariksa itu tetap membutuhkan waktu lebih dari sembilan tahun untuk mencapai Pluto.

New Horizons, pesawat angkasa luar tanpa awak yang bernilai 700 juta dolar AS itu akan mengumpulkan informasi tentang Pluto dan bulan-bulannya sebelum melanjutkan misi menjelajah bongkahan es yang terdapat di kawasan angkasa luar yang dikenal sebagai Sabuk Kuiper.

Para pegiat anti nuklir sempat menggelar aksi protes kecil pada hari Selasa untuk menentang pemakaian bahan bakar plutonium seberat 33 kilogram pada pesawat antariksa itu.

 Untuk pertama kalinya, kita akan melihat permukaannya dan apakah terdapat kawah, gunung berapi, cairan beku atau celah
 
Dr Fran Bagenal dari Universitas Colorado

Sabuk Kuiper, yang terletak di luar batas planet Neptunus, diperkirakan terdiri dari puluhan ribu bongkahan es yang tersebar di wilayah seluas 30 sampai 50 kali jarak antara Bumi dan matahari.

Sejumlah pakar astronomi mengatakan Pluto sebenarnya bukan sebuah planet dan seharusnya dikelaskan sama dengan bongkahan es di Sabuk Kuiper yang sudah ada sejak tata surya terbentuk.

"Apa yang kami ketahui tentang Pluto sangat sedikit," kata Colleen Hartman dari NASA. "Buku-buku pelajaran akan ditulis kembali setelah misi ini berakhir."

Bantuan gaya gravitasi

Dr Stephen Lowry dari Universitas Queen's di Belfast, mengatakan misi ke Pluto ini akan memberi masukan penting tentang Pluto dan satelit-satelit alaminya.

"Perbedaan dramatis pada permukaan Pluto mungkin mengisyaratkan tata surya kita tidak dibentuk oleh satu kejadian tabrakan saja. Mungkin beberapa anggota tata surya yang berukuran lebih kecil adalah benda yang tertarik oleh gaya gravitasi," kata Lowry kepada BBC News.

Apabila NASA meluncurkan New Horizons sebelum 3 Februari, wahana itu akan berada di dekat planet Jupiter dan dapat menggunakan gaya gravitasi planet itu untuk menambah kecepatannya.

Lukisan menggambarkan New Horizons mengobit di atas Pluto

Manuver ini akan menambah kecepatan wahana itu dan mempercepat perjalanan ke Pluto, sehingga diharapkan dapat memperkecil peluang kegagalan misi tersebut.

Dengan bantuan gravitasi Jupiter, New Horizons diperkirakan dapat mencapai Pluto pada bulan Juli 2015. Tanpa bantuan itu, kapsul tersebut baru akan sampai ke Pluto paling cepat pada tahun 2018.

New Horizons akan melintas mengelilingi Pluto dan bulan terbesarnya, Charon, pada hari yang sama.

Tujuh buah peralatan yang dipasang pada pesawat angkasa luar itu akan mengumpulkan informasi dari atmosfir Pluto dan memetakan dengan rinci permukaan Pluto dan salah satu satelitnya yang terbesar.

Banyak masukan

New Horizons akan memotret dua bulan kecil yang mengelilingi Pluto dan memeriksa cincin yang mengelilingi Pluto.

Dr Fran Bagenal dari Universitas Colorado yang terlibat dalam misi ini mengatakan: "Kita selama ini tidak dapat melihat dan meneliti Pluto dengan benar, bahkan dengan teleskop tercanggih sekalipun seperti Hubble. Pluto tidak bisa terlihat dengan jelas."

"Untuk pertama kalinya, kita akan melihat permukaannya dan apakah terdapat kawah, gunung berapi, cairan beku atau celah," kata Dr Bagenal.

Pluto
Sebagian ilmuwan menilai Pluto sama sekali bukan sebuah planet

Setelah mencapai Pluto, NASA harus memutuskan apakah misi New Horizons akan diperpanjang.

Kalau perpanjangan ditempuh, para ilmuwan yang bekerja dalam misi ini akan mengirim wahana tersebut untuk meneliti dua objek di Sabuk Kuiper yang memiliki diameter 50 kilometer atau lebih.

Para ilmuwan yakin mereka bisa mendapat informasi lebih besar tentang sistem tata surya dengan mempelajari Sabuk Kuiper karena di daerah itu terdapat debu-debu angkasa yang telah ada sejak tata surya terbentuk.

Jendela waktu

"Misi ini membuka jalan bagi kami untuk menilik mundur ke masa 4,5 milyar tahun yang lampau untuk mengamati pembentukan planet-planet raksasa," kata kepala misi ini Alan Stern di Institus Penelitian Southwest di Boulder, Colorado.

Dr Lowry dari Universitas Queen's, Belfast mengatakan meneliti objek-objek angkasa di Sabuk Kuiper bisa menjelaskan interaksi materi yang membentuk benda-benda angkasa luar pada awal masa pembentukan tata surya.

Peta sistem tata surya
Letak Pluto adalah yang terjauh dari matahari di sistem tata surya

Dia menambahkan para ilmuwan juga dapat membandingkan permukaan objek di Sabuk Kuiper itu dengan komet yang difoto oleh misi-misi antariksa sebelumnya.

Hal ini mungkin dapat memberikan petunjuk tentang evolusi komet sewaktu bergerak dari luar sistem tata surya ke arah matahari, tambahnya.

Untuk memotori sistem pesawat dan peralatan di dalamnya, New Horizons akan mengubah tenaga panas dari radiasi butiran plutonium menjadi listrik.

Wahana ini tidak bisa menggunakan panel surya karena menjelajah jauh dari matahari.

Pluto ditemukan pada tahun 1930 oleh astronom Amerika, Clyde Tombaugh, yang bekerja di Observatorium Lowell di Flagstaff, Arizona.

 
 
Berita utama saat ini
 
 
Email kepada teman Versi cetak
 
  Bantuan | Hubungi kami | Tentang kami | Profil staf | Pasokan Berita RSS
 
BBC Copyright Logo ^^ Kembali ke atas
 
  Berita Dunia | Berita Indonesia | Olahraga | Laporan Mendalam | Ungkapan Pendapat | Surat dari London
Bahasa Inggris | Berita Foto | Cuaca
 
  BBC News >> | BBC Sport >> | BBC Weather >> | BBC World Service >> | BBC Languages >>
 
  Bantuan | Privacy