01 Desember, 2005 - Published 17:22 GMT
Oleh Martin Plaut
BBC News, Afrika Selatan
Bongani adalah bocah laki-laki yang bertubuh kurus dan kecil. Dia berusia 10 tahun tetapi cukup pendek untuk anak seusianya.
Seperti puluhan ribu anak lainnya di Afrika Selatan, dia adalah pengidap HIV positif.
Selama tiga tahun ini, saya mengunjunginya di rumahnya di Freedom Park - kampung pemukiman yang keras dan kumuh yang tumbuh di sekeliling tambang-tambang platinum di barat Pretoria.
Di bulan Juni 2002, ibunda Bongani meninggal dunia akibat Aids, disusul oleh kakak perempuannya Bongani dan kemudian ayahnya.
Seperti satu juta anak-anak lainnya di Afrika Selatan, Bongani menjadi yatim piatu akibat epidemi penyakit ini.
Neneknya adalah satu-satunya keluarga yang masih ada yang mengurusnya.
Namun Bongani tergolong anak yang cukup beruntung; paling tidak masih ada
satu anggota keluarga yang bisa menemani dan mengurusnya.
Banyak anak lainnya di Afrika yang kini sebatang kara akibat HIV/Aids.
Sewaktu saya pertama kali bertemu dengan Bongani tiga tahun lalu, kondisi dan kesehatannya buruk.
Bongani dan neneknya hidup di gubuk satu kamar. Dia menderita diare yang tak kunjung membaik yang berarti dia tidak dapat bersekolah.
"Di malam hari saya tidak bisa tidur," tuturnya kepada saya.
Di pertengahan 2004, obat anti retroviral pertama untuk menangani virus Aids tersedia di Freedom Park, tempat mereka tinggal.
Bongani mendapat perawatan obat itu. Jadi sewaktu saya menemuinya tahun lalu, saya tanyakan bagimana kondisinya.
"Saya lebih baik sekarang. Saya tidak diare lagi," katanya.
Bongani sudah kembali ke sekolah dan mengatakan dia belajar membaca.
Kondisi Bongani jauh membaik. Dia mengatakan sekarang dialah yang menjaga dan mengurus neneknya.
Virus berbahaya
Tetapi bagi Bongani meminum obat anti Aids itu setiap hari adalah hal yang sulit.
Tidak mudah bagi anak sekecil dia untuk selalu menenggak obat setiap hari pada waktu dan jam yang sama.
Neneknya tidak bisa membaca jam. Suster yang datang memeriksa Bongani memberinya jam tetapi tak lama kemudian hilang dicuri orang.
Dia sempat dirawat dua minggu di sebuah panti perawatan tahun ini akibat radang paru-paru akut.
Tetapi sekarang Bongani sudah pulang ke rumah. Dia sudah lebih tinggi dan besar dan mengatakan dia sekarang rajin ke sekolah. Bongani mengaku dia tidak keberatan dirawat di panti.
"Mereka memberi saya makanan dan obat. Saya merasa lebih baik. Pengobatan ini bekerja bagi saya," katanya.
Tahun lalu Bongani mengatakan kepada saya bahwa dia ingin menjadi guru kalau besar nanti.
Sekarang dia bilang ingin jadi polisi. "Saya akan tangkap orang-orang jahat dan bertanya kepada mereka mengapa menjahati orang lain," kata Bongani sambil menatap saya.
Bongani mendapat banyak kasih sayang dari orang-orang yang merawatnya. Dan jika dia terus meminum obatnya, satu hari nanti mungkin impiannya itu akan terwujud.
Tetapi meminum pil setiap bukan hal yang mudah jika kita baru berusia 10 tahun, dan para dokter serta suster yang merawat Bongani khawatir peluangnya untuk bertahan hidup kurang baik.
HIV yang diidapnya adalah virus berbahaya, yang merupakan pembunuh anak-anak terbesar di seluruh Afrika Selatan.