02 Juli, 2007 - Published 11:10 GMT
Mulai tanggal 6 Juli 2007, Uni Eropa akan memberlakukan larangan terbang atas seluruh maskapai penerbangan Indonesia, termasuk maskapai penerbangan nasional Garuda Indonesia.
Larangan itu diberlakukan bersama-sama dengan larangan atas maskapai penerbangan beberapa negara lain, seperti Angola dan Ukraina.
Saat ini Garuda Indonesia --dan juga maskapai Indonesia lainnya-- tidak terbang ke kawasan Eropa, namun larangan ini telah merusak citra penerbangan Indonesia.
Wakil Direktur Umum Garuda Bidang Operasi Ari Supari menyesalkan larangan itu karena berpendapat pengawas Uni Eropa tidak pernah melakukan kajian sementara citra mereka sudah tercoreng.
Tapi apa pendapat anda? Atau anda punya jalan keluar untuk meningkatkan citra Garuda di dunia internasional?
Atau seandainya anda menjadi Direktur Garuda Indonesia atau Direktur maskapai penebangan Indonesia lainnya, apa yang akan anda lakukan?
Mohon jangan lupa nama dan kota asal anda disertakan dalam pendapat yang anda kirimkan.
Pendapat khalayak BBC
"Setelah bis, kereta api, dan kapal laut demikian kacau atau tidak ada manejemen karena faktor kepentingan pribadi para oknum. Kini giliran angkutan udara yang terkena. Haruskah negara ini dikuasai oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab? Semoga ini merupakan koreksi dan titik balik bahwa yang menilai karya kita bukan hanya bangsa kita sendiri." Bodan Limadjaja, Bandung
"Instropeksi dirilah, jangan salahkan orang lain." Agus Hermanto, Jakarta
"Kalau saja saya jadi Direktur maskapai Indonesia saya akan memerintahkan untuk segera memperbaiki sarana penunjang penerbangan. Sedangkan untuk perawatan pesawat harus diadakan kerjasama dengan perusahan pembuat pesawat tersebut, jadi bukan kerjasama pada waktu membeli saja."Alferad Mihsin, Gorontalo.
"Semoga ini bukan 'black campaign' dari produsen pesawat untuk 'memaksa' Indonesia segera membeli pesawat baru mereka." Kayin Fauzi, Balikpapan
"Apabila saya menjadi direktur maskapai penerbangan maka saya akan mengembalikan citra dunia penerbangan Indonesia dengan mengutamakan pelajanan dan keamanan. Yang paling utama adalah pengadaan armada baru yang ditunjang pelatihan para awak kabin agar citra penerbangan Indonesia kembali pulih." Faisal, Jakarta
"Hendaknya ini menjadi motivasi tersendiri untuk memperbaiki kualitas maskapai penerbangan indonesia." Rivan, Palu
"Inilah badai yang dituai dari dampak politisasi di segala bidang termasuk bidang vital yang membutuhkan kecepatan dan ketepatan serta konsistensi tanpa rekayasa. Pengaturan penerbangan kok dicoba-coba." Joekly Sinaga, Jakarta
"Malu dan sedih. Eropa tidak mau repot jika pesawat maskapai Indonesia menghadapi masalah di daerah mereka. Sekarang saatnya berbenah diri, bangkit kembali, rebut gengsi yang sudah sudah jatuh." Rudy R, Jakarta
"Wajar. Saya juga kalau orang Eropa akan melakukan hal yang sama. Jangan salahkan orang lain. Lihat pakaian sendiri, benar nggak..., kotor nggak..." Herry, Jambi
"Di luar urusan politik, yang aku dengar adalah salah satunya karena ada pertanyaan dasar berapa jumlah pesawat yang dimiliki, tapi itu saja tak tahu jumlahnya. Kalau jumlah saja tidak tahu bagaimana bisa mengurus?" S.W Arno, Jakarta
"Kesempatan baik untuk jajaran Departemen Perhubungan dan maskapai penerbangan supaya dapat introspeksi dan memperbaiki kualitas. Bagaimana caranya menyelenggarakan transportasi udara yang nyaman dan aman bagi konsumen." Andhika, Yogyakarta
"Kehebohan tidaklah perlu terjadi. Yang penting sekarang, selain rajin melobi pengawas Uni Eropa, kita perlu terus meningkatkan mutu aviasi sipil yang ada dan membuktikan pada dunia kalau dunia penerbangan kita sudah membaik. Akan tetapi, jangan lupa pula, ketika mutunya sudah baik, kita harus bisa mempertahankannya."Yohana Victoria, Surabaya
"Seyogyanya kita mawas diri, melihat ke dalam. Fakta yang terjadi adalah penerbangan komersial kita belum utuh untuk aman terbang, kalau tidak mau dibilang tidak aman." Amien Irwan, Jakarta
"Ya, itu wajar saja. Seharusnya pihak Garuda lebih membeli pesawat yang berumur baru, dan menjaga keamanan penerbangan. Kalau sudah ada larangan seperti ini, yang rugi Indonesia sendiri..." Lorenz, Yogyakarta
"Sebaiknya kita jangan terlalu mengeluarkan tenaga untuk menyikapi keputusan tersebut. Walau maskapai Indonesia tidak ada yang melayani rute tersebut, keputusan itu saya akui cukup mencoreng harkat maskapai Indonesia. Belajar dan terus membenahi diri serta mau menerima segala kritik adalah langkah yang harus diambil." Rizky, Jakarta
"Tidak usah sedih ataupun malu. Yang paling penting tingkatkan terus standard keselamatan penerbangan kita. Insya Allah dengan kinerja yang lebih baik maka dengan sendirinya aturan larangan tersebut pasti tercabut." Anwar, Jakarta
"1. Akibat penggunaan pesawat bekas, 2. SDM operator dan teknisi, 3. Keamanan, 4. Birokrasi, 5. Tepat Waktu, 6. Bisa dipercaya." Ely Sutikno, Surabaya
"Saya tidak akan mengajukan keberatan ke Uni Eropa. Yang pertama yang saya lakukan adalah menyehatkan penerbangan indonesia terlebih dahulu. Kita buat aturan-aturan yang ketat dan pembentukan badan pengawas penerbangan yg lebih berkompeten dengan beranggotakan ahli asing yang terpercaya di bidang penerbangan skala internasional." Yanuar H, Surabaya
"Telah lama nian Garuda Indonesia tidak melintas atau terbang dan singgah di seluruh bandara di kota dan negara-negara Eropa, karena tak lagi mempunyai banyak pesawat, juga tak lagi mempunyai uang untuk membeli pesawat." Wolter Soesilo, Jakarta
"Maskapai indonesia jauh tertinggal dibanding dengan maskapai negara-negara ASEAN lainnya, Jangan salahkan mereka tapi mari koreksi diri sendiri? Tiap tahun menuai kerugian. Kuncinya adalah perbaikan diri." Adam, Islamabad
"Perusahaan penerbangan Indonesia harus instropeksi dan berbenah diri untuk meningkatkan kualitas keamanan." Tri Juliadi, Tabanan
"Kita harus mengikuti standard dunia kalau mau eksis dan menang. Ikuti standard pemeliharaan pesawat dari pembuatnya. Jangan seenak sendiri dalam menetapkan aturan. Kalau negara lain bisa, masak kita nggak bisa. Kita sudah kalah dari Thai Airlines yang sudah menjadi sponsor Tenis Wimbledon 2007. Kapan Garuda atau Lion menjadi sponsor event internasional?" Maskurun, Jakarta
"Seharusnya ini sebagai pegangan maskapai Indonesia karena ulahnya sendiri. Semoga mereka mementingkan penumpangnya dahulu baru yang lain." Wiet Pratian B., Brebes
"Sebaiknya maskapai Indonesia bercermin, instropeksi, dan perbaiki kinerja. Buktikan kalau memang ok, cobalah raih penghargaan seperti bandara terbaik di dunia, maskapai dengan pelayanan terbaik di dunia... Baru setelah itu bicara dengan Komisi Penerbangan Eropa." Andreas, Jakarta
"Bagi Indonesia, ini sebuah 'pukulan' telak. Dari segi ekonomi, ini sangat merugikan. Tetapi mestinya diambil hikmah untuk menata transportasi udara di Indonesia yang lebih baik dan memenuhi standard. Bagi Uni Eropa, mudah-mudahan ini bukan sebuah hukuman yang subjektif bagi Indonesia. Sebab, kalau demikian, Indonesia juga berhak melarang maskapai Eropa melewati udara di negeri Katulistiwa ini." Mustam Arif, Makassar
"Kalau berfikir positif maka pemerintah harus evaluasi soal keselamatan penerbangan, jangan cuma bisa melakukan pemeringkatan tapi dasar penilaiannya lemah karena penilainya bisa disuap. Harus diakui bahwa manajemen penerbangan masih perlu berbenah secara radikal." Dwi Budhi Rahardjo, Jakarta