28 Januari, 2006 - Published 18:45 GMT
Rencana diterbitkannya majalah Playboy versi Indonesia bulan Maret mendatang, sudah mendapat tentangan kuat dari berbagai kalangan.
Pemuka agama, politisi maupun sebagian masyarakat menolak diterbitkannya majalah asal Amerika itu, yang selama ini dikenal menampilkan foto-foto wanita tanpa busana.
Tetapi pihak penerbit majalah Playboy di Indonesia mengatakan lain dengan majalah asli milik Hugh Hefner yang terbit di Amerika, Playboy versi Indonesia tidak akan menampilkan foto-foto wanita telanjang.
Pihak Playboy Indonesia menambahkan, majalahnya menghadapi diskriminasi hanya karena menggunakan nama 'Playboy'.
Padahal, menurut mereka, banyak tabloid dan majalah dalam negeri yang menampilkan foto-foto wanita mengenakan busana minim.
Sementara sebagian masyarakat lain tidak keberatan dengan terbitnya majalah Playboy di Indonesia, asalkan penjualannya dibatasi, misalnya dengan menutup gambar sampul dan hanya dijual kepada orang dewasa.
Pemerintah sendiri mengaku tidak dapat melarang penerbitan majalah Playboy versi Indonesia, karena menurut undang-undang sekarang penerbitan pers tidak perlu perizinan.
Sementara RUU Pornografi dan Pornoaksi masih digarap oleh DPR.
Setujukah anda dengan rencana penerbitan majalah Playboy versi Indonesia?
Dapatkah majalah Playboy bersaing dengan majalah-majalah lainnya di Indonesia?
Apakah pemerintah perlu mengeluarkan peraturan yang untuk membatasi penjualan tabloid dan majalah-majalah yang menampilkan wanita berbusana minim hanya kepada orang dewasa?
===============================
Saya rasa penerbitan majalah Playboy di Indonesia untuk saat ini masih perlu dilarang mengingat kontrol dari pemerintah yang amat sangat kurang baik. Sebagai contoh, masih banyaknya VCD/DVD porno dijual bebas di kaki lima hampir di semua daerah sampai ke pelosok2 desa. Saya sebagai Bapak yang mempunyai anak kecil sangat menyayangkan jika majalah tersebut tetap terbit.
Eri
Saya tidak setuju dengan adanya penerbitan majalah Playboy Indonesia karena majalah tersebut tidak ada manfaatnya sama sekali, hanya mengeksploitasi tubuh perempuan.
Elliany
Majalah Playboy sangat tidak cocok bagi rakyat Indonesia yang memegang teguh budaya ketimuran,yang masih mempunyai tata krama dan sopan santun.Playboy hanya akan merusak moral generasi muda penerus bangsa.
Miftahudin, Pekalongan
Kita hidup di tengah arus nilai dan idealisme yang beraneka ragam. Orang boleh jualan nilai dan idealisme apa pun, sepanjang tidak melanggar hukum. Dari segi ini, Playboy punya hak untuk terbit, terlepas apa isinya. Yang penting, demi "keadaban publik", pemasarannya harus diatur oleh regulasi, misalnya khusus untuk orang dewasa atau sampulnya ditutup. Setiap orang punya hak untuk tidak setuju, tetapi tidak punya wewenang untuk melarang. Bentuk penolakan sebaiknya diungkapkan dengan cara cerdas dan beradab, misalnya kampanye untuk tidak membeli Playboy.
Iwan Karnos, Bandung
PLAY BOY, sudah menjadi 'BRAND' majalah yang mengeksploitasi tubuh kaum hawa, dan apabila di Indonesia akan terbit majalah dengan nama yang sudah menjadi brand diatas, perlu diwaspadai, namun bila terbitnya akan mengulas hal lain yang bermanfaat, maka agar namanya diganti saja dengan yang lebih santun.
Sony Widjaya