BBC navigation

Klub miskin bukan hanya di Indonesia

Terbaru  23 Agustus 2013 - 19:38 WIB
yunani

Daniel Lloyd-Weston baru tiga hari berada di Yunani ketika mendapat sebuah amplop berisi uang tunai 3.000 euro.

Bagi kiper berusia 19 tahun yang baru bermain di dua tim ini, jumlah tersebut cukup besar.

Tetapi apakah ini adalah bonus kontrak? Uang muka? Uang untuk apartemen dan mobil seperti yang dijanjikan?

Siapa tahu? Dalam sepakbola Yunani, Lloyd-Weston cepat belajar yaitu "Anda tidak bertanya."

Lloyd-Weston bergabung dengan Kalloni atas saran temannya Nikos Galas, seorang pesepakbola Yunani yang memulai karirnya di klub lokal dan kembali ke pulau Lesbos setelah sempat latihan dengan beberapa klub Inggris.

Lloyd-Weston juga mencari peluang di klub setelah mengikuti akademi di Crewe Alexandra dan Stoke City.

Jiwa petualangnya membuatnya bersemangat mempelajari bahasa baru dan mengalami kultur sepakbola yang berbeda.

Kiper kelahiran Manchester ini jelas tidak berada di Kalloni untuk uang.

Klub yang berutang

Setelah menandatangani kontrak dua tahun dengan gaji bersih 250 euro per minggu, ia tahu ia tidak akan menjadi pemain kaya. Tapi ia mengharapkan upahnya bisa membayar tagihan utang.

"Kalau saya yang pergi, saya yang rugi"

Fabio Oliveira, mantan asisten pelatih timnas

Sedihnya, amplop itu bukanlah pertanda baik. Apartemen dan mobil yang dijanjikan klub tak pernah terwujud.

Ketika seorang direktur datang ke tempat latihan lima bulan kemudian dan mengumumkan kepada para pemain bahwa performa mereka tidak cukup baik dan gaji setiap pemain dipotong 30%, Lloyd-Weston sudah diutangi gaji 2.000 euro oleh klubnya.

Di akhir musim, meski ia menikmati bermain sepakbola, pesepakbola Inggris itu terpaksa mengatakan pada klubnya bahwa ia tidak bisa lagi bermain di sana.

Pekan ini, FifPro, asosiasi pemain profesional internasional, menyarankan para pemain untuk berpikir dua kali sebelum bergabung dengan klub di Siprus, Yunani dan Turki.

"Klub-klub di liga itu melakukan apa pun untuk memikat pemain, menawarkan gaji besar, rumah mewah, rencana ambisius, bonus atau persentase pembayaran transfer di masa depan," kata FifPro.

"Sayangnya, banyak yang tidak menepati janji mereka. Umumnya, setelah beberapa bulan klub seperti itu ternyata kekurangan dana jadi pemain harus menunggu berbulan-bulan untuk dibayar.

"Kerap, mereka tidak pernah dibayar. Banyak pemain harus meninggalkan rumah mereka karena klub tidak bisa lagi membayar sewanya. Dan bonus tak pernah disebutkan lagi."

Klub miskin Indonesia

mendieta

Diego Mendieta tidak memiliki uang untuk membiayai pengobatannya

Jika di Eropa, kasus gaji yang tak terbayar membuat sebuah klub -bahkan negara- bisa masuk daftar hitam, tidak demikian halnya dengan Indonesia.

Banyak kasuse seeperti Lloyd-Weston di Indonesia, yang berbulan bahkan bertahun tidak mendapatkan hak mereka.

Dalam serangkaian pertemuan antara Menpora Roy Suryo dengan PSSI serta dua pelaksana kompetisi, PT Liga Indonesia dan PT Liga Prima Indonesia Sportindo, serta Asosiasi Pemain Profesional Indonesia, terungkap bahwa tunggakan gaji pemain klub-klub yang berkompetisi di bawah PT LI mencapai Rp 38 miliar.

Pemain klub-klub di bawah PT LPIS pun mengalami nasib yang sama meski angkanya lebih kecil.

Dalam pertemuan dimulai April lalu itu, kesepakatannya adalah utang klub-klub binaan diselesaikan dengan cicilan antara enam bulan hingga dua tahun. Sedangkan PT LPIS akan mengakhiri kontrak pemain.

Belum diketahui bagaimana teori itu terwujud karena awal pekan ini saja, seluruh pemain Persebaya 1927 mogok latihan di Lapangan Karanggayam hingga gaji dilunasi.

Bukan cuma pemain lokal, pemain asing pun juga merasakan pahitnya saat gaji ditunggak.

Beberapa minggu lalu, pemain Perseman Manokwari asal Korea Selatan, Shin Hyun Joon, mengadu ke PSSI karena gajinya belum dibayar sejak Februari 2013.

"Kalau saya pergi, justru saya yang rugi karena artinya saya tidak akan pernah melihat uang yang menjadi hak saya."

Fabio Oliveira

Kepada wartawan, Hyun Joon juga mengaku bahwa dua klubnya terdahulu, Deltras Sidoarjo dan PSMS Medan juga masih menunggak upahnya.

Kisah Diego Mendieta

Kisah paling tragis bisa jadi dialami pemain asal Paraguay Klik Diego Mendieta, 32 tahun, yangKlik meninggal dunia karena sakit pada Desember 2012.

Di akhir hidupnya ia mengalami kesulitan ekonomi karena gaji sebesar Rp100 juta dari Persis Solo versi PT Liga Indonesia belum dibayar.

Kematian Mendieta tidak hanya menyesakkan bagi pencinta sepakbola di dalam negeri tetapi juga di luar negeri setelah media asing mengangkat kisahnya.

FifPro mengecam kasus itu dan mengancam akan melaporkannya ke FIFA, seperti ditulis di situs resmi FifPro saat itu.

"Jika benar kematian Diego Mendieta disebabkan kelalaian klubnya, maka ini sangat memalukan,” ujar Sekjen FIFPro Divisi Asia, Frederique Winia. "Ini memalukan untuk semua pemain profesional di Indonesia."

"Saya tahu banyak cerita pemain yang tidak dibayarkan gajinya oleh klub-klub mereka, dan harus menunggu sampai berbulan-bulan. Tapi saya tak pernah mendengar kisah seperti ini, di mana ada seorang pemain sakit parah tapi dibiarkan begitu saja oleh klubnya."

Tak punya pilihan

Beberapa waktu lalu, mantan asisten pelatih timnas Indonesia Fabio Oliveira yang juga ditunggak gajinya mengatakan pada BBC Indonesia bahwa meski lelah menunggu, ia tak punya pilihan selain bertahan.

"Kalau saya pergi, justru saya yang rugi karena artinya saya tidak akan pernah melihat uang yang menjadi hak saya," kata warga negara Brasil itu.

Ia pun bercerita bahwa meski merasa kecewa, nasibnya masih jauh lebih baik dibandingkan Mendieta atau bakat asing lain yang terlunta-lunta di Indonesia.

"Saya tahu ada kawan pemain asing yang sampai jatuh sakit dan miskin karena gaji tak dibayar bertahun-tahun, sekarang ia mengamen di bus bersama anak balitanya," kata Fabio.

Sampai kapan mereka harus menunggu?

Kita tentu berharap Menpora baru bersama badan-badan terkait sigap bertindak agar kisah sedih Mendieta tak terulang dan pesepakbola yang bermain di klub Indonesia tak merasa terbuang.

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014 BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.