Makin besar usul Piala Dunia 2022 digelar di musim dingin

  • 19 Maret 2013
Qatar
Qatar menjanjikan sistem pendingin canggih di berbagai stadion sepak bola.

Desakan agar penyelenggaraan Piala Dunia 2022 di Qatar digelar pada musim dingin makin besar.

Kali ini usul itu disampaikan wakil presiden FIFA dari Inggris, Jim Boyce, yang mengatakan suhu 45 derajat terlalu panas, baik bagi pemain maupun penonton.

"Saya tidak ikut menentukan terpilihnya Qatar. Namun dalam kasus ini, akal sehat harus menang. Piala Dunia adalah perhelatan sepak bola paling akbar di dunia. Semua orang harus menikmatinya," kata Boyce kepada kantor berita PA Sport.

"Orang-orang Qatar yang saya kenal mengatakan menggelar turnamen di tengah suhu yang sangat panas tentu tidak akan nyaman," paparnya.

Ia menjelaskan ada kekhawatiran suhu yang terlalu panas akan berdampak negatif terhadap kesehatan para pemain.

"Kalau memang lebih aman menyelenggarakan Piala Dunia di bulan Januari dibandingkan Juli, tentu saya mendukung," kata Boyce.

Tanggapan FIFA

Piala Dunia biasanya digelar pada bulan Juni dan Juli ketika belahan bumi utara mengalami musim panas.

Namun di Qatar pada bulan-bulan tersebut suhu udara bisa mencapai 45 derajat Celcius.

Panitia penyelenggara di Qatar sejak awal mengatakan tidak akan ada masalah dengan penyelenggaraan karena mereka sudah menyiapkan teknologi dan infrastruktur, yang membuat pemain dan penonton sama-sama nyaman.

Salah satu yang disiapkan adalah sistem pendingin khusus raksasa di stadion.

Selain Boyce, presiden UEFA Michel Platini dalam beberapa kali kesempatan juga mengatakan sebaiknya Piala Dunia 2022 digelar antara November hingga Januari.

Menanggapi usul ini sekjen FIFA, Jerome Valcke, mengatakan Piala Dunia 2022 bisa dipindahkan ke musim dingin jika penelitian menunjukkan suhu udara yang terlalu panas bisa membahayakan pemain di lapangan.

Berita terkait