Satu hari tanpa buruh

31 Oktober 2013 Terbaru 19:14 WIB

Ribuan buruh melakukan mogok kerja di beberapa kawasan industri se-Indonesia. BBC Indonesia menangkap beberapa kisah seputar aksi ini dan juga kehidupan buruh dibaliknya.
buruh
Aksi mogok nasional di Kawasan Industri Pulogadung, Jakarta, dimulai dengan aksi penyisiran ke pabrik-pabrik pada pukul 07.00 WIB, Kamis (31/10). Sejumlah buruh yang masih bekerja diminta keluar dan mengikuti aksi. (Foto-foto: Christine Franciska)
buruh
Massa yang diperkirakan hingga 10.000 orang ini kemudian berkumpul di sekitar kawasan industri, melakukan orasi dan berunjuk rasa menuntut pencabutan Inpres 9 tahun 2013, kenaikan upah 50% se-Indonesia, dan jaminan kesehatan.
buruh
Aksi ini membuat pabrik-pabrik padat karya berhenti produksi. Manager pabrik garmen PT Dodo Activewear mengeluh karena buruh dipaksa untuk keluar. "Hari ini dari pada anarkistis, kita terpaksa persilahkan keluar. Besok kita lihat situasi," katanya.
buruh
Di Cikarang, pabrik bahkan telah mengumumkan tutup pada Kamis (31/10). Sejumlah pengusaha pada umumnya mengatakan bahwa jika upah minimum untuk tahun depan dinaikan signifikan, mereka akan hengkang dari Indonesia menuju negara yang lebih kondusif seperti Vietnam dan Myanmar. (Foto: Sri Lestari)
buruh
Khusus di Jakarta, buruh meminta upah sebesar Rp3,7 juta, angka yang dirasa cukup 'fantastis' bagi sebagian pengusaha. Salah satu koordinator buruh Rony Yanurianto mengaku buruh garmen sebetulnya juga sempat khawatir kalau pengusaha hengkang. Tapi Rony mengatakan tuntutan Rp3,7 juta itu merupakan 'angka politis' saja. "Kalau sudah naik Rp3 juta kami juga sudah senang," katanya.
buruh
Sejumlah buruh mengaku aksi mogok hari ini tidak hanya melulu soal upah. Pasalnya di beberapa pabrik besar, gaji pokok dengan uang lembur bisa mencapai Rp5,5 juta hingga Rp6 juta. "Tapi itu setelah kita bekerja lembur terus sekitar 260 jam sebulan. Kita ingin perjuangkan sistem lembur yang tidak sehat itu. Mau cuti saja susah. Sistem kerja juga beberapa masih kontrak," kata seorang buruh di perusahaan otomotif.
buruh
Aksi mogok nasional rencananya akan berlangsung hingga 1 November mendatang dan diklaim diikuti oleh dua juta buruh. Pada aksi hari ini, sejumlah buruh yang sudah jauh berjalan kaki, beristirahat sejenak di sisi jalan. Sebagian lagi, juga ada yang 'kabur' untuk makan siang, di tengah terik matahari.
buruh
Tidak jauh dari Kawasan Industri Pulogadung, Raezah Safriadi (21) seorang buruh pabrik otomitif mengantar BBC Indonesia melihat permukiman di sekelilingnya. Umumnya, buruh di kawasan ini tinggal di rumah petak yang memiliki gang-gang sempit. Sebagian yang merupakan kaum pendatang biasanya mengontrak seadanya.
buruh
Ini adalah Parti, 45 tahun, pekerjaannya adalah buruh borongan di beberapa pabrik percetakan. Orang tua tunggal dari empat anak ini hanya bekerja jika dipanggil oleh ketua borongan. "Jadi enggak tentu, kalau dipanggil baru dapat uang. Ini saya sudah tiga minggu tidak dipanggil," katanya.
buruh
Dengan penghasilan rata-rata sekitar Rp50.000 per hari, Parti hanya bisa mengontrak rumah petak reyot ini dengan biaya Rp450.000. "Kalau punya uang, saya yang penting bayar kontrakan dan sekolah anak. Enggak apa-apa rumah begini, asal kalau hujan tidak basah."
buruh
Selain Parti, ada Pasirah (46), dua dari tiga anaknya bekerja sebagai buruh dengan gaji pokok sekitar Rp2,5 juta. Pasirah yang juga dulu bekerja sebagai buruh mengaku hanya bisa menyekolahkan anak hingga SMK saja. Rumahnya terdiri dari dua petak, sedang satu petak lagi terpaksa mengontrak. Di kamar dengan kasur tingkat inilah, Pasirah, suami, dan anak bungsunya tidur tiap malam. "Dua kakaknya tidur di mana saja, bisa di dapur atau ruang tamu," katanya.
buruh
Tidak seperti perumahan yang tertata bersih, pemukiman buruh di Pulogadung memiliki gunungan sampah yang tidak diolah di tempat pengolahan sampah akhir. Bau sampah yang menyengat menjadi akhir perjalanan kami ke rumah-rumah buruh.