Festival seni budaya Indonesia di London

20 Oktober 2013 Terbaru 21:02 WIB

Indonesia Kontemporer 2013 menampilkan beragam nyanyian dan tarian yang diramaikan belasan warung makanan Indonesia.
Foto ZhaoHui Zhang untuk ARTiUK.com
Indonesia Kontemporer 2013 merupakan festival seni budaya Indonesia yang digelar oleh lembaga nonprofit ARTiUK bekerja sama dengan Centre of South East Asian Studies, SOAS University of London, dan didukung oleh KBRI serta BKPM London. Foto ZhaoHui Zhang untuk ARTiUK.com
Foto ZhaoHui Zhang untuk ARTiUK.com
Dalam festival ketiga tahun ini, Sabtu 19 Oktober, untuk pertama kalinya digelar pula cerita tentang lingkungan di Indonesia oleh penutur profesional warga Inggris keturunan Sri Lanka, Debbie Guneratne. Foto ZhaoHui Zhang untuk ARTiUK.com
Foto ZhaoHui Zhang untuk ARTiUK.com
Kelompok musik rakyat Bonapasogit membuka pementasan seni yang juga diisi dengan para seniman yang terinspirasi oleh seni budaya Indonesia. Foto ZhaoHui Zhang untuk ARTiUK.com
Foto ZhaoHui Zhang untuk ARTiUK.com
Di ruang pameran, dipaparkan berbagai pakaian, sepatu, dan produk tekstil lain serta kerajinan tangan karya warga Indonesia maupun warga Inggris. Foto ZhaoHui Zhang untuk ARTiUK.com
Foto Paul Flanders untuk ARTiUK.com
Manuel Jimenez memimpin workshop Gamelan Bali, yang selalu mendapat minat tinggi dalam setiap acara tahunan Indonesia Kontemporer. Duta Besar Indonesia di London, T.M. Hamzah Thayeb, mengatakan dalam sambutannya bahwa seni budaya merupakan salah satu upaya diplomasi yang efektif. Foto Paul Flanders untuk ARTiUK.com
Foto Adrian Permata Scanlon untuk ARTiUK.com
Paduan suara anak All Saint's New Eltham antara lain membawakan lagu 'Becak' dan 'Soleram' setelah latihan intensif selama tiga bulan dipimpin Luke Green, termasuk pelafalan Bahasa Indonesia. Foto Adrian Permata Scanlon untuk ARTiUK.com
Foto Paul Flanders for ARTiUK.com
Berbagai jenis makanan Indonesia diperkenalkan kepada warga Inggris dan dinikmati perantau Indonesia lewat 16 warung di lapangan terbuka. Foto Paul Flanders untuk ARTiUK.com
Foto ZhaoHui Zhang untuk ARTiUK.com
Dua penari Bali kawakan di Inggris, Tiffany Strawson dan Margaret Coldiron, membuat penonton tertawa lepas saat menampilkan tari topeng Bali untuk kisah klasik dunia Barat, Red Riding Hood. Foto Paul Flanders untuk ARTiUK.com
Foto Adrian Permata Scanlon untuk ARTiUK.com
Kelompok tari kontemporer asal Australia, Suara Indonesia, yang sedang tur keliling ke Eropa ikut meramaikan Indonesia Kontemporer 2013. Foto Adrian Permata Scanlon untuk ARTiUK.com
Foto ZhaoHui Zhang untuk ARTiUK.com
Beberapa acara diskusi digelar bersamaan dengan festival, antara lain tentang arsitektur dan seni Indonesia yang menghadirkan kolaborasi arsitek Indonesia, Daliana Suryawinata, dan ahli sejarah seni Inggris, Lesley Pullen. Foto ZhaoHui Zhang untuk ARTiUK.com
Foto Paul Flanders untuk ARTiUK.com
Fashion show menampilkan rancangan modern berbasi corak tradisional dari berbagai daerah Indonesia karya Leny McDonnell dipadu dengan pakaian asli Flores dan Dayak. Foto Paul Flanders untuk ARTiUK.com
Foto Paul Flanders untuk ARTiUK.com
Tua muda bersatu dalam workshop tarian Poco-poco dari Sulawesi Utara yang kemudian ditampilkan di panggung utama dengan partisipasi spontan sebagai penutup festival. Foto Paul Flanders untuk ARTiUK.com