PM Norwegia menjadi supir taksi

  • 13 Agustus 2013
Jens Stoltenberg
Percakapan Stoltenberg dengan penumpang direkam lewat kamera tersembunyi.

Perdana Menteri Norwegia, Jens Stoltenberg, pindah profesi menjadi supir taksi di ibukota Oslo.

Dia memgatakan ingin mendengar langsung pendapat warga Norwegia dan taksi adalah salah satu tempat orang untuk mengungkapkan pendapat dengan jujur.

Dengan mengenakan kaca mata hitam dan seragam supir taksi, Stoltenberg yang sedang melakukan 'blusukan' gaya Norwegia tidak langsung dikenali penumpang.

"Amat penting bagi saya untuk mendengar hal yang sebenarnya dipikirkan orang," jelasnya kepada media setelah menyelesaikan tugasnya sebagai supir taksi.

"Dan jika ada tempat orang mengatakan yang sebenarnya dia pikirkan, tempat itu adalah taksi."

Percakapan dengan penumpang direkam lewat kamera yang tersembunyi dan dia baru mengaku identitas sebenarnya jika penumpang bersangkutan memang bisa mengenalnya.

Rekaman pembicaraan kemudian diunggah di halaman Facebook perdana menteri dan kelak akan diedit sebagai bagian dari kampanye yang akan berlangsung bulan September.

Diskusi politik

Sebagian besar penumpang mengaku merasa ada sesuatu yang berbeda begitu masuk ke dalam taksi Stoltenber. Salah seorang malah langsung neyelutuk, "Dari sini Anda benar-benar seperti Stoltenberg."

Percakapan antara penumpang dan supir kemudiah beralih dengan tema politik dan dalam satu kesempatan, Stoltenberg membahas kebijakan dalam pendidikan.

"Yang paling penting adalah memastikan bahwa pelajar memiliki sesuatu untuk berkembang jauh dan memberikan bantuan tambahan bagi mereka yang membutuhkan," jelasnya.

Namun untuk urusan menyetir, dia sepertinya tak bisa berargumentasi karena beberapa penumpang mengkritiknya.

Ada saatnya mobil tersentak tiba-tiba saat mau atau menginjak rem karena dia pikir kopling padahal mobilnya jenis otomatis. Untunglah para penumpang tidak ditagih bayaran di akhir perjalanan.

Stoltenberg merupakan pemimpin yang populer di Norwegia namun jajak pendapat memperlihatkan dia tertinggal dari calon oposisi menjelang pemilu mendatang.

Ketika ditanya apakah akan menjadi supir taksi penuh jika kalah pemilihan umum, perdana menteri mengaku lebih berguna sebagai perdana menteri.

"Saya kira negara dan penumpang taksi di Norwegia akan mendapat pelayanan terbaik jika saya menjadi perdana menteri dan bukan supir taksi."

Ada benarnya mengingat terakhir kali dia menyetir adalah delapan tahun lalu.